MELALUI film ini, Ari Aster (Hereditary) mengukuhkan sidik jarinya sebagai sutradara film horor-misteri berbasis kisah kepercayaan paganisme dan mitologi. Misterinya selalu bermain dengan tanda dan simbol melalui drama bertempo pelan yg digerakkan oleh persoalan teka-teki adikodrati yang bertema klasik.

Kalau di film Hereditary berlatar sebuah keluarga, maka dalam film ini yang menjadi pintu gerbang misterinya adalah sebuah komunitas pada komune terpencil. Sepasang kekasih bersama beberapa kawan dekatnya terbang dari AS mengunjungi perayaan akbar berkala pada sebuah komune di suatu pedalaman di Swedia. Komunitas ini merupakan asal keluarga dari salah satu di antara mereka. Selain liburan, beberapa di antaranya juga memaknai kunjungan ini sebagai survei bahan riset tesis Antropologi mereka.

Sambutan awal atas kedatangan mereka di komune yang terasa cukup hangat dan makin menambah hasrat mereka untuk menyelami kehidupan komunitas tertutup ini perlahan menjadi lapis-lapis kengerian yang tak tertahankan.

Dalam perayaan akbar komunitas yang berlangsung selama 9 hari ini, liburan serta riset-survei para mahasiswa dari AS ini menjadi sebuah parade menyaksikan serta menghadapi aktivitas janggal yang misterius dan bahkan mengancam jiwa.

Tempo lambat nan mencekam yang dirasakan dalam Hereditary tetap terbawa dalam film ini. Teror psikologis yang dimainkan dalam film ini difokuskan pada si cewek karakter utama yang dikisahkan baru saja mengalami trauma atas tragedi yang menimpa ortu dan adiknya. Bedanya, kali ini unsur petualangan dalam plot utamanya lebih kental.

Entah strada aktif siapa lagi yang mampu menyajikan drama misteri penuh simbol dengan pengayaan plot berlatar paganisme dan mitologi seperti ini? Karya Ari Aster sangatlah berkarakter. Tak luput juga untuk yang satu ini. Pembangunan misterinya cenderung bebas dari unsur cilukba (sekadar mengagetkan), tapi berhasil memikat dan mencengkeram rasa penasaran kita. Durasi yang lama pun tak membuatku kebosanan karena setiap belokan dan persimpangan plotnya, konstan dihadapkan pada tanda tanya.

Yang membuat saya merasa kurang terngerikan dari cerita film ini adalah kurangnya kejutan yang berarti atas jawaban misteri di akhir babaknya. Ini berbeda dengan Hereditary yg benar-benar memberikan ledakan jawaban atas misteri yang diangkat pada adegan terakhirnya. Satu adegan yang menyimpan ledakan tak eksplosif, tapi mengandung kengerian mendalam.

Walau begitu, film ini tetaplah satu drama horor klasik yang saat ini langka didapat. Sebuah film petualangan yang ketegangannya tak menggebrak dada pintu, melainkan menyelinap dari celah sempit di bawah pintu. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara