RADAR JOGJA – Nguras enceh adalah tradisi ritual tahunan setiap hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura penanggalan Jawa. Ritual ini berupa membersihkan gentong yang berada di Makam Raja-Raja Jawa di daerah Pajimatan, Imogiri, Bantul.

Menurut abdi dalem yang bertugas R. Rekso Diharjo tradisi ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan hati dari berbagai hal kotor.

Upacara ini selalu dihadiri oleh banyak orang. Mereka ingin mengetahui makna upacara  dan ada pula sebagian yang ingin melihat upacara sembari ngalap berkah. Air dari genthong ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan tolak bala.

Nguras enceh atau membersihkan genthong di Makam Raja-Raja Mataram ini ada empat genthong yang dibersihkan. “Masing-masing enceh mempunyai nama tersendiri seperti Nyai Siyem yang berasal dari Siam, Kyai Mendung dari Turki, Kyai Danumaya dari Aceh, dan Nyai Danumurti dari Palembang,” jelasnya.

Ke empat enceh ini merupakan persembahan dari kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Diyakini bahwa air dalam enceh-enceh tersebut berkhasiat baik untuk kesembuhan.

Sehari sebelum Upacara nguras enceh dilakukan, terlebih dahulu diadakan Upacara Ngarak Siwur (gayung air dengan batok kelapa dengan tangkai bambu) yang diambil dari kantor camat Imogiri.

Abdi dalem dibantu warga mengambil air cidukan tersebut. Setelah enceh penuh dengan air masyarakat umum baru boleh mengambil air yang dianggap bertuah tersebut. Pada proses ini para warga berebut untuk mendapatkan air kurasan enceh tersebut. Disamping itu, hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa tetap menghormati budaya dan melestarikan tinggalan para leluhur. (sky/ila)