RADAR JOGJA – Kericuhan terjadi dalam aksi demostrasi mahasiswa di kantor DPRD Kota Magelang, Kamis (26/9). Sejumlah peserta sempat membuat keribukan.

Setidaknya tujuh orang terluka. Beberapa di antaranya terluka parah.
Bahkan, seorang petugas Dinas Perhubungan Kota Magelang Edward Kus Prayogi ikut terluka. Dia mengalami pendarahan di bagian mata akibat terkena pukulan pipa besi. Dia mendapat perawatan di RSUD Tidar.

Para perusuh dalam aksi itu tampak mengenakan baju biasa. Baju mereka berbeda dengan masa aliansi mahasiswa yang mengenakan jas almamater kampus masing-masing.

Sebelum berorasi di depan gerbang kantor, masa memaksa masuk dengan melompati pagar. Bom molotov sempat dilempar ke arah polisi. Polisi pun beberapa kali menembakkan gas air mata. Selang beberapa waktu, suasana tenang lagi.

Dalam orasi yang disuarakan beberapa mahasiswa, mereka menuntut Ketua DPRD Kota Magelang Budi Prayitno mendatangi nota kesepahaman. Nota itu berisi tujuh butir. Di antaranya, mencabut UU KPK, UU SDA, dan UU Pemasyarakatan. Juga, pembatalan pimpinan KPK terpilih dan RKUHP.

Tidak berselang lama, Budi muncul. Dia berada di tengah massa aksi.
Dia menyambut baik aspirasi yang mereka suarakan. ”Asal dilakukan dengan tertib dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Sesuai dengan kewenangan kami, akan kami sampaikan kepada yang berwenang,” jelasnya.

Budi menandatangani nota kesepahaman itu. Lantas, membacanya.
Masa aksi menyanyikan lagu Padamu Negeri. Mereka membubarkan diri.
Namun, ada sekelompok masa yang membakar kantong sampah di tengah jalan.

Sekelompok orang itu melemparkan pecahan material bahan bangunan ke arah kompleks kantor Pemerintah Kota Magelang. Lampu hingga bangku taman menjadi sasaran. Rusak.

Polisi berusaha meredam aksi masa itu dengan berkali-kali menembakkan gas air mata. Masa terus melakukan kerusuhan.

Anggota Brimob pun dikerahkan. Beberapa orang yang dianggap sebagai provokator diringkus. Sampai usai Maghrib kemarin, petugas menangkap 42 orang.

Direktur Pengamanan Objek Vital Polda Jateng Kombes Suparyono menjelaskan, beberapa orang yang ditangkap belum dewasa. Usianya di bawah 17 tahun.

Budi menyayangkan kericuhan tersebut. ”Itu kebangetan. Saya yakin itu bukan mahasiswa. Itu mencoreng aksi mahasiswa yang sudah damai. Sudah disiapkan dan komunikasi dengan aparat dan pihak kami juga,” ungkapnya. (asa)