RADAR JOGJA – Enam kambing jawa jantan disiapkan warga Dusun Kepuh, Manggong dan Pager Jurang, Cangkringan. Kambing tersebut dipersiapkan untuk prosesi adat becekan atau dandan kali.

Upacara dandan kali memiliki aturan yang wajib dipatuhi. Salah satu syarat utama adalah seluruh pesertanya harus laki-laki. Perempuan tidak diperbolehkan.

Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto mengatakan upacara ini dimaksudkan untuk berdoa memohon hujan kepada Sang Maujud Agung. Agar tanah menjadi subur, sehingga warga sehat, aman, selamat, dan sejahtera.

“Waktu penyelenggaraan, menggunakan pranotomongso yaitu pada mongso kapat dan harinya Jumat Kliwon,” kata Heri, Jumat (27/9).

Upacara tersebut berarti memelihara lingkungan sungai. Air sungai sangat penting bagi penduduk setempat dalam segala hal. Apalagi saat ini hujan sudah berbulan-bulan tidak mengguyur Cangkringan.

“Air memang untuk sehari-hari masih ada. Tapi keperluan untuk ternak dan menyiram jalan terbatas. Di sini kalau kemarau debu pasir banyak, mengganggu kesehatan,” kata Heri.

Upacara dilakukan di Kali Gendol. Melibatkan warga tiga dusun. Penyembelihan kambing dilakukan di sungai. Selanjutnya dimasak bapak-bapak yang sudah menunggu di lokasi upacara.

“Kemudian dibagikan kepada warga sekitar. Ada juga yang dimakan di tempat,” ujar Heri.

Prosesi tersebut sudah dilakukan turun temurun. Heri sudah tidak ingat kapan awal mula prosesi adat tersebut dilaksanakan.

Tumija, 36, warga Kepuharjo mengatakan biasanya seusai prosesi adat, hujan segera turun. Namun itu hanya kepercayaan masyarakat sekitar.

“Karena ini bagian dari ikhtiar saja. Nanti yang Di Atas yang menentukan doa kami, dikabulkan atau tidak,” kata Tumija. (har/iwa/rg)