JOGJA – Tak boleh cepat menyerah. Itulah pesan yang disampaikan politikus muda dari Partai Golkar, Dico M Ganinduto bagi anak muda. Terutama yang mulai terjun ke dunia politik.

“Saya terjun ke politik ini sebagai bentuk ikhtiar untuk berkarir di politik,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema ‘Milenial Berkarya, Indonesia Maju’ dengan dihadiri para mahasiswa yang digelar di de Laxton Hotel Jogja, Senin (30/9).

Dia mengisahkan pengalamannya terjun dalam pencalonan anggota DPR RI pada pemilu 2019. Saat itu dia gagal melaju ke Jakarta karena hanya duduk di posisi dua. Di belakang calon petahana. Kegagalan itu tak membuatnya berhenti.

“Begitu kalah saat menjadi calon legislatif, terus menyerah. Berhenti berpolitik,” kritiknya pada caleg  muda lainnya. Itu dibuktikan Dico dengan maju menjadi Calon Wakil Bupati Semarang dalam Pilkada tahun depan. “Karena masa depan Indonesia ada pada anak muda,” lanjutnya.

Karena itu, Dico yang merupakan Ketua Gerakan Milenial (Gema) Golkar ini mengatakan, peran politisi muda sangat diperlukan dalam era yang serba maju seperti sekarang ini. Dari politikus-politikus muda tersebut diharapkan akan muncul ide-ide cemerlang untuk dapat memajukan bangsa. “Mau tidak mau kemajuan bangsa ini terganting pada politikusnya,” ujar Dico yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).

Pria 29 tahun itu mengatakan, sebenarnya saat ini telah banyak generas muda yang mengerti politik. Tapi belum paham benar tentang apa isi di dalamnya. Karena ketidakpahaman tersebut justru membuat kaum milenial salah menilai dan ujung-unjungnya apatis terhadap dunia politik.”Generasi muda saat ini kurang responsif terhadap dunia politik,” tuturnya.

Pemantik diskusi lainnya, Dosen Fisipol UGM, Abdul Gaffar Karim menambahkan, generasi milenial juga bertugas untuk mengawal jalannya demokrasi supaya sehat. Karena itu dia mengapresiasi gerakan mahasiswa yang saat ini ramai kembali menggelar aksi demonstrasi di jalanan. “Meski ada pula yang tuntutannya tidak jelas, tahu-tahu bakar ban di jalan,” kritiknya.

Abdul Gaffar juga mengkritisi pembelajaran di kampus saat ini yang hanya terfokus pada teknikal pembelajaran. Termasuk juga dengan pembatasan waktu lama kuliah. Itu yang dinilainya membuat mahasiswa abai dengan persoalan masyarakat maupun politik.”Kaum milenial tidak bisa memaksa yang sedang berkuasa untuk idealis,  kita sendiri juga harus idealis,” jelasnya. (pra)