RADAR JOGJA – Jumlah petani usia produktif terus menurun dari tahun ke tahun. Sedangkan minat milenial terjun ke sektor pertanian minim.

Dekan Pertanian UGM Jamhari mengatakan, dunia pertanian menghadapi beragam persoalan. Salah satunya minimnya minat generasi muda terjun ke bidang pertanian. Menjadi tantangan mengajak generasi muda menekuni sektor ini.

Data Sensus Pertanian 2013, jumlah rumah tangga petani turun 20 persen. Dari 79,5 juta menjadi 63,6 juta. “Diperparah dengan kondisi 61 persen petani berusia lebih dari 45 tahun,” jelas Jamhari, Senin (1/10).

Menarik minat milenial ke pertanian bukan hal mudah. Karena image petani identik dengan pekerjaan kurang menguntungkan. Perguruan tinggi diharapkan bisa mendongkrak milenial tertarik sektor pertanian.

Pihaknya telah memiliki Agroenterpreunership Education Program (AEP). Program pendidikan kewirausahaan kerja sama dengan Kagama Pertanian.

Diharapkan program tersebut melahirkan socioenterpreunership bidang pertanian. “Melalui Jambore Petani Muda merupakan cara yang dapat mendorong pengembangan agrosociopreneur milenial,” kata Jamhari.

Sekretaris Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Rofiq Andriyanto membenarkan petani di Sleman didominasi usia tua. Petani muda mendominasi budidaya tanaman kebun dan sektor perikanan.

Pihaknya menginisiasi pembentukan petani milenial menyasar usia 19-39 tahun. “Petani saat ini sudah tua-tua dan pensiunan,” ungkap Rofiq.

Modernisasi pertanian untuk milenial dilakukan dengan penggunaan alat tanam modern. Alat panen kombinasi digunakan untuk memudahkan panen.

Penanaman tanaman pangan difokuskan pada padi organic. Nilai jualnya lebih tinggi. “Sehingga pemasarannya lebih luas. Bisa masuk supermarket,” jelasnya. (eno/iwa/by)