RADAR JOGJA – Pesawat tanpa awak Ashwincarra besutan tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta meraih tempat ketiga ajang Tecno Fest Fighter UAV Competition di Istanbul, Turki, 11-14 September 2019, dengan tidak mudah. Mengalami kerusakan berat pada ronde terbang ketiga, Ashwincarra sempat kesulitan landing akibat cuaca tidak bersahabat.

Angin yang bertiup cukup kencang, membuat sayap pesawat Ashwincarra rusak. Tidak hanya itu, kerusakan kembali dialami saat penerbangan ronde keempat. Pesawat bertabrakan di udara dengan pesawat  lain. Ini membuat kerusakan cukup fatal, hingga sayap pesawat hancur.

Tidak memiliki waktu yang cukup lama, tim Gamaforce hanya melakukan perbaikan pesawat dalam jangka waktu dua jam. Mulai dari memasang ulang, memindahkan semua komponen elektronik pesawat ke badan cadangan, hingga memperbaiki sayap yang rusak.

Kondisi ini sangat menguras tenaga dan pikiran tim agar bisa menyelesaikan perbaikan tepat waktu. “Serta harus melalui technical inspection ulang untuk memastikan komponen pesawat sesuai standar yang ditetapkan,” kenang Ketua Tim Gamaforce Ariefa Yusabih.

Setiap tim diwajibkan mengikuti minimal lima ronde terbang. Usai melewati, dalam babak final  Ashwincarra terbang bersamaan dengan sembilan pesawat lain. Kali ini, setiap pesawat dituntut mengikuti dan mengunci lawan. Sekaligus harus bisa menghindar dari kunci pesawat lain.

Apabila pesawat yang diterbangkan dikunci oleh pesawat lain, maka akan mendapatkan pengurangan poin dari juri. Memang tidak mudah untuk melakukan hal itu secara bersamaan. Ditambah dengan area terbang yang tidak terlalu luas, hanya 300 x 500 meter. “Sehingga kemampuan pilot untuk mengendalikan pesawat dan performa sangat menentukan, terutama saat melakukan manuver,” ungkapnya.

Kenyataanya, apa yang diusahakan tidak mengkhianati hasil. Kerja keras yang dilakukan tim Gamaforce berhasil membawa mereka menyabet juara tiga. Menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang akhirnya dinyatakan sebagai juara.

Ashwincarra dikembangkan oleh tim Gamafroce yang terdiri atas beberapa mahasiswa dari Fakultas Teknik, MIPA, serta Sekolah Vokasi UGM. Selain Ariefa, ada Fauni Ambarsari sebagai manajer, Dwi Novarifanto (elektronis dan ground control station), Baskara (progamer), Eko Putra Wijaya (pilot), serta Ery Setiawan (mekanis).

Ashwincarra merupakan UAV tipe fixed wing dengan kemampuan manuver tinggi yang mampu lepas landas, mendarat, jelajah, kemudian mendeteksi, mengunci, dan mengikuti UAV lain, baik secara manual maupun mandiri menggunakan sistem kecerdasan buatan.

Dengan bobot 3,8 kilogram, pesawat ini memiliki kecepatan 150 Km/jam yang menjadikannya paling unggul dalam mengejar pesawat lawan maupun menghindar dari kemungkinan terkunci pesawat lawan. “Pesawat ini bisa terbang hingga 40 menit dengan jarak terbang hingga 500 meter,” jelas Ariefa. (eno/laz)