FILM domestik dengan latar cerita prestasi pencapaian kompetisi olahraga bisa dihitung jari. Belum lagi yang berasal dari cabang olahraga panjat tebing. Spesialnya lagi, dalam satu babak penceritaannya film ini secara langsung merekrut juga si pemanjat tebingnya, yang mana kisahnya diangkat sebagai karakter utama film, untuk memerankan dirinya sendiri.

Plot film ini berjalan kilas balik. Diceriterakanlah 3 fase hidup si pemanjat tebing bernama panggilan Ayu: kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Ajang puncaknya adalah Asian Games 2018 lalu yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang.

Masa kanak-kanak yang Ayu dihabiskan di sebuah desa di Purwodadi menurut saya jadi fase yang paling menarik saya nikmati karena dia yang seorang bocah cewek ragil nan tomboy. Ayu ini dikisahkan sebagai anak yang meski bandel dan nekat, tapi manja dan penyayang ibu. Sontak ketika ibunya pamit kerja sebagai TKW ke Arab Saudi si Ayu kecil sedih, merasa kehilangan, seraya memendam marah yang kemudian ia utarakan saat remaja.

Pembagian 3 periode cerita tentu tak bisa lepas dari risiko dibanding-bandingkan penyajiannya. Ini pula yang menjadi plus/minus film ini. Ketika fase pertama cukup nyaman dinikmati beserta olah pemeranan yang terasa wajar dan sebagian besar gaya bahasa Jawa yang lumayan bisa diterima, film ini sedikit terasa longgar di fase kedua dan awal fase ketiganya.

Pasalnya, sejak awal unsur kerinduan terhadap keberadaan ibu adalah motor penggerak plot motivasi film ini. Sayangnya fase kedua kurang mengantarkan resonansi itu, hingga pada akhirnya sedikit kembali terangkat di fase ketiga.

Olah pemeranan merapakan aspek yang juga cukup bisa dinikmati dalam film ini. Bahkan ketika Ayu kecil ngatain “cangkemmu!” terhadap pasangan kakek-nenek reseh (yang suka menghakimi tetangga) hatiku sungguh terhibur karena ada kepuasan tersendiri emosi kita terwakilkan dari lontaran mulut seorang bocah kecil. Pemilihan pemeran bapak dan ibunya Ayu pun sangat pas. Meski jarang dapat jatah tampil di layar, aura keterikatan emosional mereka terbangun manis.

Film ini berhasil mengangkat sebuah kisah dokudariama yang terbilang nyaman dinikmati bersama keluarga. Tiadanya adegan yang terlampau menye-menye khas plot from-zero-to-hero bin melodariamatis tak membuat film ini kaku. Lola Amaria, si strada, tampaknya sengaja tak terlalu ingin memoles filmnya. Bagiku tak mengapa karena sajian nuansa emosi yang mentah malah bisa ditangkap. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara