RADAR JOGJA – Ambeien atau hemoroid adalah pelebaran dan turunnya bantalan anus yang menimbulkan gejala berupa rasa nyeri, panas, dan berdarah di dubur.

Angka kejadian (insiden) hemoroid di Indonesia masih cukup tinggi, sekitar 5,7 persen dari jumlah penduduk. Hanya 30 persen dari seluruh penderita ambeien yang bersedia operasi. Selebihnya takut dilakukan operasi. Karena operasi ambeien dikenal sebagai operasi yang paling terasa sakit.

Berkat kemajuan teknologi di bidang kedokteran, saat ini telah tersedia pelayanan operasi ambeien tanpa rasa sakit. Operasi ini dikenal sebagai ‘Pila Teknik’ dengan tag line“no blade no pain”. “Dengan metode rubber band ligation ini masalah penyakit ambeien dapat diatasi dengan cepat, tanpa rasa nyeri,” jelas dr Heri Setianto Sp BFINACS kepada Radar Jogja, Minggu (6/10).

Lebih lanjut Heri Setianto menjelaskan bahwa Hemoroid sebetulnya merupakan jaringan normal yang terdapat pada setiap orang. Akan tetapi bisa menjadi gangguan kesehatan ketika muncul gejala gatal dan iritasi pada daerah dubur, nyeri, dan rasa tidak nyaman. Serta timbul benjolan di daerah anus.Bahkan terkadang disertai perdarahan pada saat buang air besar (BAB).

Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya gangguan ambeien atau wasir, antara lain karena kurang konsumsi makanan berserat, kurang minum air, sering terlalu lama dalam posisi duduk, dan ada juga faktor keturunan.

Menurut alumnus Fakultas KedokteranUniversitas Gadjah Mada (UGM) itu ada beberapa cara terapi ambeien yang bisa dilakukan oleh penderita: 1. Obat telan/oral, 2. Salep topikal, 3. Skleroterapi (suntik wasir), 4. Ligasi atau pengikatan, 5. Koagulasi / pengeringan, 6. Operasi menggunakan stapler, dan 7. Metode laser. “Pemilihan tindakan sangat tergantung pada tingkatan / grade dari hemoroid dan pertimbangan biaya,” tutur Heri.

Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan operator utamaBadan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, maka pengambilan keputusan tindakan operatif harus mempertimbangkan masalah biaya. Baik oleh pasien, dokter atau rumah sakit,maupun oleh penyedia jasa penjaminan pembiayaan (BPJS).

Bagi penderita yang tidak punya banyak pilihan, misalnya peserta BPJS Kesehatan, pengobatan ambeien ini bisa dikaver BPJS asal mau telaten dan agak ribet. Itu lantaran pasien harus mengikuti sistem rujukan berjenjang mulai fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) hingga fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL).

Menurut Heri, sebagianbesar kasus hemoroid  dapat diselesaikan di rumah sakit kelas D atau C yang mempunyai dokter spesialis bedah. Sehingga bagi BPJS tidak perlu mengalokasikan pembiayaan yang terlalu besar. “Pasien yang datang ke rumah sakit Kelas B seperti RSUD Sleman ini biasanya yang kasusnya sudah berat dengan berbagai macam komplikasi. Atau pasien yang tidak mau ribet dengan birokrasi rujukan yang berbelit tetapi bersedia menanggung biaya sendiri,” jelasnya.

Dengan hadirnya metode ‘Pila Teknik’ ini, lanjut Heri, pasien non penjaminan akan diuntungkan. Sebab, operasi / tindakan dapat dilakukan dengan cepat,biaya terjangkau, dan tanpa meninggalkan rasa nyeri yang berkepanjangan. “Bahkan bisa dengan one day surgery: Pagi datang, sore sudah bisa pulang. Besok paginya sudah bisa bekerja lagi,”ungkap dokter humoris yang punya hobi touring itu.(*/yog/tif)