RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ mencatat ada 110 desa mengalami kekeringan. Seluruhnya tersebar di empat kabupaten, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Dampak terparah berada di bumi Handayani sebanyak 68 desa.

Droping air terus berlangsung di empat wilayah ini. Terutama untuk kawasan Gunungkidul yang masuk status siaga darurat. Terhitung hingga saat ini BPBD DIJ telah membantu penyaluran air sebanyak 31,5 juta liter air.

“Catatan kami ada 110 desa di 39 kecamatan di empat kabupaten. Fokus kami wilayah yang benar-benar tidak terjangkau air PDAM. Paling banyak memang Gunungkidul, tercatat ada 26 juta liter air yang terdistribusi ke sana,” jelas Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana, Sabtu (6/10).

Biwara menjelaskan detail wilayah kekeringan di Gunungkidul. Total ada 164 dusun di 68 desa yang mengalami kekeringan parah. Distribusi bantuan air tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Pihak swasta, lanjutnya, juga turut membantu tangki air.

Tercatat pemerintah telah menyalurkan 2.782 tangki. Total air yang telah tersalurkan mencapai 13,9 juta liter air. Sementara untuk swasta telah menyalurkan 2.602 tangki air. Volume tangki air yang tersalurkan mencapai 12,95 juta liter air.

“Berbeda dengan wilayah lain, Gunungkidul memang memiliki kontur tanah keras. Tidak bisa menyimpan air, sehingga tidak ada sumur. Tapi sungai bawah tanahnya banyak. Sayangnya butuh teknologi untuk bisa memanen airnya,” katanya.

Di satu sisi Biwara menjamin kebutuhan air bersih tetap terjaga. Terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Ini karena pemerintah maupun swasta bergerak cepat. Distribusi juga tepat sasaran berkat adanya pemetaan kawasan kekeringan.

“Penyaluran dan pendataan oleh BPBD masing-masing wilayah. Setidaknya hingga akhir Oktober, penyaluran dan ketersediaan air bersih masih aman. Belum lagi ditambah penyaluran oleh Dinas Sosial,” ujarnya.

BPBD DIJ turut mencatat kerusakan lahan sawah. Total kerusakan lahan sawah di empat kabupaten mencapai 6208,5 hektare. Detailnya terdiri atas 2268,5 hektare sawah rusak ringan, 855 hektare rusak sedang, 193,5 hektare rusak berat, dan 2921,5 hektare mengalami puso.

“Penyebabnya karena kekeringan meteorologist. Berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang. Rata-rata wilayah ini sudah tiga bulanan tidak hujan. Alhasil tanah rusak dan belum bisa ditanami,” katanya.

Kota Jogja tak luput dari dampak kekeringan. Terbukti dengan mengeringnya Embung Langensari Gondokusuman. Ketinggian air terlihat menurun drastis. Fenomena ini dimanfaatkan warga untuk turun mendekati dasar embung. Mulai dari memancing ikan hingga sebagai arena bermain anak.

“Kering karena saluran air di sisi atas sedang diperbaiki. Tidak terlalu krusial dampaknya, karena di bawah Langensari tidak ada persawahan. Suplai air bersih PDAM dan air sumur juga masih lancar,” kata Camat Gondokusuman Guritno. (dwi/laz)