RADAR JOGJA – Menjadi anggota dewan dan ingin terus mengabdi kepada masyarakat. Sesuai profesi yang telah dijalaninya sekitar 25 tahun. Sebagai juru supit (sunat). Dengan jargonnya, “Ora Lara-Ora Lara”.

Itulah H. Suryana Amd Kes. Politikus Partai Golkar ini lolos menjadi anggota DPRD Sleman periode 2019-2024 dari daerah pemilihan Sleman 5 (Mlati, Gamping).

Suryana termotivasi menjadi legislator agar tenaga dan pemikirannya lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Di sela kesibukannya sebagai anggota parlemen, Suryana tetap meluangkan waktu untuk praktik menyunat. Di klinik kesehatan As-Waja miliknya. Yang berlokasi di Dusun Bedingin, Sumberadi, Mlati, Sleman. Dia juga kerap terlibat dalam aksi sosial sunatan massal gratis. “Ini bentuk pengabdian saya kepada masyarakat,” ujarnya akhir pekan lalu.

Meski berlatar belakang pendidikan di bidang kesehatan, pria kelahiran 4 Juli 1965 tersebut ingin membangun sektor pariwisata di wilayahnya. Dia ingin memadukan konsep wisata kebun buah dan kuliner.

Suryana melihat banyak program desa wisata di wilayahnya yang cukup potensial. Namun belum tergarap maksimal.

Bukan tanpa alasan Suryana ingin mengembangkan konsep wisata kebun buah. Lahan pertanian “menganggur” di wilayahnya masih sangat luas. Ada juga wana desa.

Selain itu, kebun wisata juga bisa dikelola dengan mengoptimalkan pekarangan pribadi warga setempat. Tidak harus di lahan yang luas.

Dengan konsep itu, Suryana mengajak para pemuda untuk gemar bertani. Dia siap memfasilitasi para pemuda di wilayahnya untuk studi banding ke kebun wisata buah petik sendiri, yang menurutnya telah berhasil. Salah satunya di Kabupaten Bantul. “Kita nggak perlu malu belajar kepada teman atau tetangga yang telah sukses,” tutur warga Dusun Pubdong 2, Tirtoadi, Mlati, Sleman.

Suryana juga berencana mendatangkan tutor. Untuk membina dan membimbing anak-anak muda. Sampai bisa bertani buah.

Rencana itu akan dilakukan supaya masyarakat lebih terarah dalam bertani buah. Sebab, menurutnya, sejauh ini petani hanya mendapat bantuan bibit tanaman secara acak. Tapi tidak ada pendampingan secara masif. Baik cara penanaman maupun teknik pembuahannya. “Yang saya tahu seakan-akan (petani buah, Red) asal tandur (menanam). Sehingga hasilnya tidak maksimal,” beber Suryana.

Buah lokal menjadi komoditas utama yang akan dibudidayakan. Supaya  masyarakat tidak tergantung lagi dengan buah impor. Khususnya durian dan anggur.

Menurut Suryana, tanaman anggur akan tumbuh subur dan berbuah lebat jika proses menanamnya tidak¬† asal-asalan. Tanaman itu juga perlu dipupuk dan dipangkas dahannya secara rutin. “Jika buah lokal bisa dikelola dengan baik, kenapa tidak dioptimalkan sekalian,” tegasnya.

Suryana berharap, lahan pekarangan warga di wilayah Mlati dan Gamping ke depan tak hanya ditanami sengon. Yang perputaran ekonominya butuh waktu lama.

Sedangkan tanaman buah bisa diproduksi dan dipanen tanpa mengenal musim. Bisa setiap saat “dipaksa” berbuah. “Semua kan ada teknik dan ilmunya,” tutur dia.

Suryana optimistis, kebun wisata buah petik sendiri bisa menjadi sumber pendapatan baru warganya. Guna meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.

Oleh karena itu, Suryana mengimbau kepada generasi muda untuk gemar bertani. Dengan cara yang baik dan benar. Tidak secara instan. Karena segala upaya dan usaha membutuhkan proses dan pengorbanan.

Kepada pemerintah daerah, Suryana berharap agar ke depan dana pembangunan tak hanya difokuskan untuk infrastruktur. Tapi sebagian dialihkan untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Suryana tak memungkiri pentingnya pembangunan infrastruktur seperti jalan dan fasilitas umum lainnya. Namun, pembangunan SDM juga perlu diprioritaskan demi kesejahteraan maayarakat.(*/yog/tif)