RADAR JOGJA – Dari sekadar selamatan tingkat perdukuhan dan sajian terbaik di doakan bersama di balai desa, kemasan merti desa Kemanukan, Kecamatan Bagelan, Purworejo jauh lebih baik. Jolen, sebagai tempat untuk membawa makanan terlebih dahulu diarak keliling kampung dilengkapi dengan berbagai atraksi budaya yang ada di desa tersebut pada akhir pekan kemarin.

Ya, pawai budaya menjadi hajat yang tengah dikembangkan masyarakat yang mengandalkan penghidupan dari hasil pertanian tersebut. Mirip dengan tradisi Jolenan Somongari, kemasannya jauh lebih sederhana tapi tetap memikat.

Panitia kegiatan Sugiyatno mengungkapkan, jika merti desa yang ditutup dengan sajian wayang kulit sudah dilakukan turun temurun di desa tersebut. Seiring perkembangan zaman, masyarakat menginginkan adanya perubahan konsep acara, tapi tidak meninggalkan sajian pakem.

”Kemasan acara bisa ditambah tanpa mengurangi makna mendalam yang sudah ada sejak dulu,” tutur Sugiyatno.

Dia mengungkapkan, ide untuk mengirabkan aneka bentuk selamatan desa itu sebenarnya untuk menjawab keinginan masyarakat. Selama ini mereka hanya menyaksikan arak-arakan pembawa jolen dari pedukuhan ke balai desa. Dalam perjalannya, jolen lebih banyak diusung oleh kendaraan. Meski masih membawa supitan (orang yang membawa jolen), namun hal itu menjadikan masyarakat amat terbatas untuk bisa menyaksikan arak-arakkan seperti halnya zaman dahulu. (udi/ila)