RADAR JOGJA – Puluhan ribu pengunjung termasuk  wisatawan mancanegara (wisman) tumplek blek memenuhi panggung utama dan rute Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #4 yang menjadi puncak HUT ke-263 Kota Jogja, tadi malam (7/10). Rute peserta karnaval wayang, Jalan Jenderal Sudirman, Tugu Pal Putih, Jalan Margo Utomo dan Kotabaru.

Gelaran diawali dengan arak-arakan Urang Ayu. Dia seorang putri dari Baruna, raja penguasa laut berbadan ikan. Suaminya seorang kera sakti bernama Anoman. Setelahnya, penonton dihibur dengan kendaraan bernuansa udang dengan iringan puluhan penari.

Sebanyak 14 tokoh Wayang Kapi-Kapi muncul dalam gelaran WJNC. Wayang Kapi-Kapi merupakan wayang dari Keraton yang jarang diketahui publik. Filosofinya adalah mengajari masyarakat untuk mengayomi perbedaan.

Tokoh Wayang Kapi yang dibawakan di antaranya Wayang Kapi Kingkin, perpaduan tubuh kera dengan kepiting; Wayang Jaya Harimau perpaduan antara kera berkepala harimau, serta Kapi Satabali, perpaduan kera dengan kepala ayam. Tiap tokoh diperankan oleh puluhan penari berkostum persembahan dari 14 kecamatan di Kota Jogja.

Dalam gelaran ini, Kecamatan Pakualaman membawakan tokoh Kapi Warjita atau Kapi Cacingkanil. Dia merupakan satu di antara bala tentara Pancawati di bawah kepemimpinan Prabu Ramawijaya.

Arif Hidayat selaku sutradara menuturkan, tokohnya adalah perpaduan antara tubuh kera dengan kepala cacing. Dia menerjemahkan konsep itu dengan menggabungkan tokoh Davy Jones dari film Pirates of the Caribbean dengan tokoh kera dari seri Sun Gokong. “Tapi tentakel Davy Jones kita ganti menyerupai cacing,” ungkapnya.

Tujuannya agar konsep pawai dapat diingat dan mudah diterima oleh generasi muda. “Supaya lebih mudah diingat oleh generasi muda, kami memadukan budaya pop dengan tradisi,” tambahnya.

Arif mengaku telah mempersiapkan acara ini sejak bulan Agustus lalu. “Persiapan kurang lebih tiga bulan. Sejak mendapat undian, mengikuti workshop, sampai latihan rutin,” jelasnya.

Abdul Hamzah, 27, wisatawan asal Madura mengaku beruntung berkunjung ke Jogjakarta bertepatan saat perayaan HUT Kota Jogja. “Pas sekali momennya, lagi liburan ternyata ada acara besar di sini. Niatnya cuma mau foto-foto di Tugu, jadinya malah nonton karnaval wayang ini,” ungkapnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) memaknai peringatan HUT Kota Jogja kali ini sebagai rasa kebahagian dan suka cita karena semua elemen masyarakat memenuhi suasana pagelaran. Hal ini sebagai bentuk untuk melebur bersama dalam merayakan Hari Jadi Kota Jogja.

“Ini bisa menjadi keberkahan bagi semua lapisan hingga setiap masyarakat pada setiap sudut di Kota Jogja tercinta ini,” kata HS dalam sambutan WJNC #4  tadi malam.

HS pun mengatakan WJNC ke 4 ini terbukti mendatangkan manfaat yang luar biasa dalam segala aspek, salah satunya aspek pariwisata. Yaitu ditandai dengan lonjakan tingkat hunian hotel maupun peningkatan aspek ekonomi riil masyarakat yang semakin berkembang dan maju.

Ini juga seperti tonggak harapan sekaligus semangat atas kebaikan yang sedang dan terus lestari sampai kapan pun. Dengan rasa bahagia dan penuh optimisme atas apa yang sudah dilaksanakan pemerintah bersama-sama dengan masyarakat.

Oleh sebab itu, lanjut HS, Pemkot Jogja berupaya terus melakukan inovasi baik dalam konsep maupun kemasan acara, sehingga diharapkan acara pagelaran WJNC dan kegiatan olahraga terus tumbuh dan berkembang. Dan semakin meneguhkan Kota Jogja sebagai miniatur Indonesia, sehingga akhirnya dapat memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh warga yang datang ke kota ini.

Sementara Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X mengatakan, kebinekaan bagi Jogja adalah tradisi. Keraton, kampung dan kampus mensinergikan masyarakat. “Ini bisa terjadi dengan cair, di mana saja dan kapan saja  tanpa memerlukan sebuah rekayasa sosial,” katanya  dalam sambutan Gubernur  Hamengku Buwono X yang dibacakan.

Hal ini mengejawantahkan sintesa Golong Gilig, meleburnya nilai kesatuan antara pemimpin dengan rakyatnya, juga sinergitas antar elemen masyarakat, dan harmonisasi antar golongan yang terjadi secara alami.  Kota jogja diharapkan selalu berkembang menjadi kota pelajar, budaya dan wisata.

Salah satunya,  mewujudkan kota pelajar yang dirasa cukup berat, berbeda dengan dua ikon lain yakni budaya dan wisata. Karena insiden dan gesekan antarpelajar masih sering terjadi di Kota Jogja. “Tentu menjadi tugas kita bersama untuk bersinergi dalam menanamkan konsep saling memanusiakan manusia melalui keluhuran budaya, dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. (cr15/cr16/laz)