RADAR JOGJA – Enam kecamatan di Kabupaten Sleman bakal terlewati jalur kereta api (KA) yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan DIJ. Enam kecamatan itu adalah Gamping, Godean, Seyegan, Mlati, Sleman, dan Tempel.

Soal enam kecamatan di Sleman yang akan terlewati rel KA ini terungkap dalam rancangan peta detail engineering design (DED). Rencana pembangunan rel kereta api ini sendiri kini dalam tahap studi untuk menentukan lokasi jalurnya.

“Ada 24 bench mark (BM) atau patok yang ditanam di sembilan desa, itu sebagai studi DED,” kata Kabid Sarana Prasarana Perhubungan Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman Jenu Santoso, Rabu (9/10).

Desa yang rencananya dilalui rel kereta api yaitu Ambarketawang, Sidokarto, Margoluwih, Tirtoadi, Sumberadi, Triharjo, Caturharjo, Margorejo, dan Lumbungrejo. Untuk titik pertama BM yang ada di Sleman telah ditanam di sekitar Pasar Tempel.

Jenu menjelaskan, sosialisasi kepada warga telah dilakukan, sekitar Agustus lalu. Hal itu dilakukan berdasarkan permintaan dari pemkab agar tidak ada gejolak di masyarakat. Dia juga meminta kepada pusat agar nantinya sosialiasi terus dilakukan sampai adanya kepastian.

“PPK dan BPTD Jateng DIJ menjelaskan bahwa proyek baru sampai tahap pematokan, dan bukan berarti titik itu yang akan dibebaskan. Patok itu untuk studi saja,” terangnya.

Proyek di bawah kewenangan Ditjen Perkeretapian itu tahun ini masuk tahapan pengerjaan DED. Pekerjaan itu dilakukan oleh PT Rayakonsult berdasar surat perjanjian per tanggal 20 Mei 2019. Ada pun garis besar lingkup pekerjaan utama, antara lain, pengumpulan data sekunder, survei pengukuran topografi, penyelidikan tanah, dan pembuatan desain rinci.

Berdasar informasi dari konsultan, panjang jalur rel kereta api direncanakan sekitar 40 kilometer. Mulai Stasiun Patukan (Gamping) hingga Borobudur (Kabupaten Magelang). Seluruhnya akan dibangun dengan konsep atgrade. “Semua desainnya atgrade karena kalau rel dibangun elevated (melayang), biayanya terlalu mahal,” beber Jenu.

Dia menambahkan, Pemkab Sleman pada prinsipnya mendukung gagasan tersebut karena sejalan dengan visi daerah untuk mewujudkan kawasan pariwisata terkemuka tahun 2025. Di samping itu reaktivasi jalur kereta api juga akan mendukung penyediaan moda transportasi publik yang lebih masif.

“Angkutan kereta api banyak peminatnya, bahkan bisa dibilang mulai menggeser minat terhadap moda transportasi udara. Karena itu, kami optimistis kehadiran jalur kereta api menuju kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Borobudur bisa lebih menghidupkan pariwisata,” tambahnya.

Kendati mendukung rencana itu, Pemkab Sleman memberikan beberapa catatan. Di antaranya pembangunan jalur kereta api disarankan tidak melewati daerah padat penduduk maupun situs sejarah.

Oleh karenanya, nantinya pembangunan rel kereta hanya akan menghidupkan sebagian jalur kereta lama dan sisanya membangun rel baru. “Sejauh ini baru disepakati pemilihan koridor. Untuk penetapan trase, konsultan diwajibkan melakukan survei lapangan dan mengajukan rekomendasi alternatif trase sesuai ketentuan teknis,” ungkapnya.

Banyaknya pembangunan infrastruktur di Sleman barat tentu akan memengaruhi arah kebijakan pembangunan. “Memang seharusnya ada pengaruh. Tapi sejauh ini untuk sementara belum ada info bagaimana arah kebijakan selanjutnya,” ujar Kasubid Tata Ruang Perkotaan Bappeda Sleman Dona Saputra Ginting.

Lebih lanjut dengan banyaknya rencana pembangunan infrastruktur, pemkab masih belum mau buru-buru untuk membangun fasilitas pendukung lain. Saat ini untuk Sleman barat masih difokuskan pada lumbung pangan.

Dia juga belum mau berspekulasi lebih jauh. Jika nantinya banyak infrastruktur yang dibangun, apakah pemkab akan mengevaluasi stastus lumbung pangan tersebut. “Kalau itu saya belum berani berspekulasi,” terangnya. (har/laz)