RADAR JOGJA – Melukis untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang. Inilah yang dilakukan pemerhati budaya Charris Zubair. Dia memiliki semangat tinggi dalam berkesenian. Dia melukis sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Percakapan tentang budaya seakan tidak ada habisnya saat bertemu Charris Zubair. Pria kelahiran Jogjakarta 25 Juli 1952 ini seakan hapal seluk beluk Jogjakarta di masa lalu. Mulai dari tata kota hingga sejarah yang membentuk Jogjakarta hingga saat ini.

Dia tak hanya paham budaya. Ternyata, dia juga memiliki kecintaan terhadap dunia lukis. Ini terbukti saat Radar Jogja berkunjung ke rumahnya di kawasan Kotagede beberapa hari lalu. Lukisan berjejer di sisi pendapa maupun ruang kamarnya.

Sebagian tertata di luar ruang. Sedang dalam perbaikan. ”Iya ini. Beberapa lukisan ada yang retak catnya. Lalu, bingkai ada yang dimakan rayap. Ini sedang diperbaiki agar tetep bagus. Kalau yang retak dan sobek, saya vernis agar tetap kelihatan baru,” jelasnya.

Pria 67 tahun ini mengaku tak ingat pasti kapan mulai melukis. Yang jelas, di setiap sudut lukisan tercantum tanggal pembuatan. Salah satu lukisan tertera tahun 1959. Sedangkan lukisan lainnya tertulis 1967.

Usut punya usut, lukisan-lukisan tersebut merupakan karya saat Charris masih anak-anak. Rata-rata merupakan pekerjaan prakarya saat duduk di sekolah dasar. Kala itu melukis merupakan pelajaran wajib bagi semua siswa.

”Ada lukisan yang tahunnya 1967. Lukisan itu justru disimpan sama teman saya. Tapi malah dikembalikan ke saya setelah tahu itu karya saya. Ya, saya simpan lagi. Kalau disuruh mengingat dan menghitung, sudah lupa ada berapa lukisan,” kata ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY) ini.

Disinggung mengenai konsep lukisan, Charris hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia mengaku tidak ada aliran khusus dalam berkarya. Baginya, berkesenian tidak memiliki batasan atau genre. Apa yang terlintas maka itulah yang dia torehkan dalam media lukis.

Dalam merampungkan sebuah lukisan, Charris tak mematok batas waktu. Baginya, berkarya tidak ada batasan wajib rampung. Menurutnya, penentuan batas waktu justru bisa merusak semangatnya dalam berkarya. Itulah mengapa untuk sebuah lukisan, terkadang dia bisa merampungkannya lebih dari sebulan.

”Tergantung mood. Enggak bisa dipaksakan. Kalau lagi bagus banget, kadang bisa selesai lebih dari satu lukisan. Tapi kalau lagi enggak nemu mood-nya, satu lukisan itu bisa sebulan lebih enggak rampung-rampung,” kata peraih Satya Lencana Karya Satya ini.

Pascapenisun 2017, Charris memang tak langsung berhenti dari aktivitasnya. Hingga kini, dia masih dipercaya sebagai ketua DKKY. Jabatan ini menjadi nilai lebih baginya. Dia bisa bertemu dengan para seniman lukis.

Charris kerap bertukar ide dalam sebuah obrolan. Tujuannya untuk memperdalam ilmu dunia lukis. Sebab, dia mengaku tak memiliki disiplin ilmu tentang melukis.

Dia tidak keberatan dianggap tak memiliki basis ilmu seni. Baginya, berkesenian tak harus berangkat dari disiplin ilmu seni. Ini karena seni adalah buah dari cipta, rasa, dan karsa seorang manusia. Siapapun bisa berkesenian tanpa harus menyandang titel disiplin ilmu seni.

”Inspirasi mengalir begitu saja karena memang tidak sekolah seni. Bagus atau jelek menurut orang lain juga tidak terlalu peduli. Kalau secara teori ilmu gambar dianggap salah, ya sudah. Yang penting, bisa menyalurkan nyeni ke media lukis,” katanya.

Charris tidak selalu melukis di atas kanvas. Salah satu karya cukup nyeleneh. Dia menggunakan sebuah nampan kayu tua. Benda ini dia ambil dari langgar di sisi selatan rumahnya. Dia menduga nampan itu berusia sepuh. Itu terlihat dari guratan kayu jati nampan.

Melalui media ini, dia menghadirkan objek langgar yang berdiri di depan rumahnya. Karya itu dia beri judul Langgar Duwur.

Charris menceritakan, langgar berlantai dua itu termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya. ”Langgar Duwur itu sudah ada sejak 1880-an. Masuk dalam cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Nampan yang jadi media juga saya ambil dari langgar itu. Awalnya pecah, lalu saya perbaiki dan dijadikan media lukis,” ujarnya. (dwi/amd)