RADAR JOGJA – Di seluruh dunia, setiap 40 detik seseorang kehilangan nyawanya. Penyebabnya bunuh diri.

Berdasar data, lebih dari 800 ribu orang meninggal dunia setiap tahun akibat nggantung. Ini menjadi penyebab kedua kematian di setiap negara pada rentang usia 15 sampai 29 tahun. Bunuh diri harus dicegah!

Lektor Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta Dr dr Fx Wikan Indrarto SpA menjelaskan, sekitar 75 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Termasuk Indonesia. Namun, pada prinsipnya, bunuh diri dapat dicegah dan dikendalikan.

Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan mengurangi akses ke sarana bunuh diri. Di antaranya, senjata api dan obat-obatan tertentu.

”Penilaian dan pengelolaan perilaku bunuh diri oleh petugas kesehatan juga harus dilakukan. Serta, tindak lanjut perawatan bagi orang yang pernah mencoba bunuh diri dan penyediaan dukungan sosial,” jelas Wikan, Kamis (10/10).

Saat ini, tambah Wikan, dalam Mental Health Action Plan 2013-2020 dinyatakan semua negara telah berkomitmen mengurangi tingkat bunuh diri sampai sepuluh persen. Pada 2012, tingkat bunuh diri tahunan secara global mencapai 11,4 persen dari seratus ribu penduduk.

Bunuh diri bukanlah penyakit. Namun, bunuh diri memiliki faktor utama terkait gangguan mental. Tingkat prevalensi gangguan mental adalah 80 sampai 100 persen dalam semua kasus bunuh diri.

Diperkirakan, ada risiko seumur hidup untuk bunuh diri terhadap orang dengan gangguan mental. Terutama depresi yang mencapai 6 sampai 15 persen, pecandu alkohol 7 sampai 15 persen, dan skizofrenia mencapai 4 hingga 10 persen.

”Oleh karena itu, peningkatan deteksi, rujukan, dan pengelolaan gangguan mental dalam layanan kesehatan adalah langkah penting untuk pencegahan bunuh diri,” tambah Wikan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD menyatakan, prevalensi gangguan mental emosional berdasar data itu diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Prevalensi gangguan mental emosional mencapai enam persen untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 ribu jiwa. Ada berbagai macam gangguan seperti gejala depresi dan kecemasan.

Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat skizofrenia mencapai 0,0017 persen atau 400 ribu penduduk. Dari jumlah itu, 14,3 persen di antaranya pernah atau sedang dipasung. ”Angka yang dipasung di desa tentu lebih tinggi,” jelas Ali saat talkshow bertepatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia di Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta.

Pada 2013, Ali menambahkan, masalah kesehatan jiwa dialami 1,7 persen penduduk. Persentse itu terus meningkat hingga mencapai sebesar 7 persen sampai 2018. ”Meskipun begitu, UU Kesehatan Jiwa menjamin untuk setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik,” ungkap Ali.

Bertepatan Hari Jiwa Sedunia, Fakultas Psikologi UGM juga menggelar talkshow bertema Membangun Kesehatan Jiwa yang Komprehensif. Selain itu, melalui Center for Public Mental Health, fakultas tersebut juga merilis dua buku panduan yaitu Kampus Sejahtera dan Pencegahan Bunuh Diri.

Dekan Fakultas Psikologi UGM Prof Dr Faturrochman MA mengatakan, kesehatan mental sama halnya dengan kesehatan fisik. Kesehatan mental menjadi sangat vital untuk mewujudkan kesejahteraan.

Fakta menunjukkan terdapat kecenderungan meningkatnya masalah kesehatan mental di tengah masyarakat. ”Persoalan individual, dalam keluarga, di sekolah, dan kampus, tempat kerja, dan lingkungan sosial memicu masalah-masalah tersebut,” tutur Faturrochman. (eno/amd)