RADAR JOGJA – Aksi demontrasi yang berujung pada kerusuhan di sejumlah titik di Papua sempat memukul pariwisata di daerah tersebut. Padahal kondisi sebenarnya tak separah info di media sosial.

Kepala Seksi Pasar Wisata Dinas Pariwisata Papua MA. Mariansah mengungkapkan, ketika kerusuhan terjadi, sektor pariwisata di Papua terpukul. Sejumlah negara mengeluarkan travel warning sehingga kunjungan wisatawan turun dan ada pembatasan orang asing masuk ke Papua. Padahal sebelum ada kerusuhan, rata rata perbulan ada 200-300 wisman yang berkunjung. “Travel warning yang dikeluarkan sangat berdampak pada kunjungan wisatawan. Sudah akses transportasi ke Papua sulit, orang asing juga masuk dibatasi,” katanya di sela kegiatan TOT terkait Analisa Pasar Wisata bagi pegawai dan akademisi Papua di Hotel Buetiq Jogja, Kamis (10/10).

Dispar Papua, selalu meyakinkan masyarakat bahwa Papua tidak seperti yang diberitakan. “Yang terjadi isu Papua dibombardir dan diekspoitasi padahal kondisi di masyarakat tidak seperti itu,” ujarnya.

Dia berharap, sektor pariwisata bisa ikut membantu dan mengembalikan kondisi Papua lewat pariwisata. “Silahkan datang (ke Papua), orang-orangnya baik kok. Berita terkait Papua, banyak yang viralkan negatif,” katanya.

Meskipun pariwisata di Papua belum seperti di Jogja, katanya, tetapi potensinya tidak kalah dengan Jogja. Untuk mengembangkan dan meningkatkan kembali pariwisata di Papua, apa yang bisa diadopsi dari Jogja ke Papua akan dilakukan. “Misalnya dengan mengangkat potensi desa wisata berbasis masyarakat. Di Jogja ada tebing Breksi atau pun hutan Pinus. Kami akan pelajari itu,” katanya.

Terpisah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIJ, Tri Saktiyana menjelaskan banyak wisata di DIJ yang melibatkan masyarakat. Tebing Breksi misalnya, dulu merupakan lokasi tambang batu. Saat ini Tebing Breksi menjadi obyek wisata yang menawarkan pengalaman. (*/pra/er)