RADAR JOGJA – SEBAGAI anggota dewan Sleman, Shodiqul Qiyar tak ingin sebatas menjadi wakil masyarakat dalam penentuan kebijakan pemerintah daerah. Politikus Partai Gerindra itu membawa misi sosial.

Secara pribadi Qiyar ingin mewujudkan ketersediaan mobil ambulans gratis di 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman.

Qiyar  tak ingin ada warga Sleman yang sakit terlambat mendapat perawatan medis. Gara-gara tidak punya kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit. Karena akibatnya bisa fatal. Meninggal dunia. “Jangan sampai  itu terjadi di Sleman. Kita harus menyelamatkan saudara yang membutuhkan,” ujarnya Kamis(10/10).

Saat ini memang baru satu unit mobil ambulans yang dia sediakan. Qiyar berusaha menambah jumlah mobil ambulans setiap tahunnya. Setidaknya diawali di wilayah barat Sleman. Di daerah pemilihan Sleman 6 (Godean, Moyudan, Seyegan, Minggir) yang menjadi wilayah pemenangannya pada Pemilu Legislatif 2019 lalu. “Keberadaan ambulans ini penting. Karena orang punya mobil belum tentu boleh dipinjam untuk mengantar orang sakit,” kata ketua Fraksi Gerindra DPRD Sleman itu.

Sebaliknya, lanjut Qiyar, keluarga orang sakit belum tentu berani pinjam mobil tetangga. “Ambulans ini gratis. Stand by 24 jam lengkap dengan sopir dan bahan bakarnya,” sambung sosok yang pernah menjabat anggota DPRD Sleman 2009-2014.

Selain misi pribadi untuk sosial, Qiyar juga telah menyiapkan program sebagai anggota DPRD Sleman 2019-2024. Salah satunya di bidang pertanian.

Sebagaimana diketahui, Sleman barat merupakan wilayah penyangga pangan di Provinsi DIJ. Oleh karena itu, Qiyar berharap keberadaan lahan pertanian produktif terus dipertahankan. Jangan sampai beralih fungsi untuk properti. Yang hasilnya hanya akan dinikmati oleh pengembang swasta. “Pembangunan di lahan non produktif sih tidak masalah. Tapi kalau sawah subur harus dipertahankan,” tegas pria kelahiran Grobogan, 15 Maret 1982.

Qiyar mengatakan, untuk mempertahankan lahan pertanian subur dibutuhkan kebijakan yang pro petani. Kebijakan itulah yang akan dia kawal melalui lembaga legislatif. Supaya ketersediaan  lahan pertanian tetap terjaga dengan baik. Sedangkan pembangunan infrastruktur akan difokuskan untuk pembuatan atau perbaikan talut dan saluran irigasi.

Menurut Qiyar, setiap kemarau seperti saat ini selalu banyak ditemui petani ngelep (mengairi sawah) bergiliran. Terlepas dari kondisi alam, gejala tersebut menunjukkan adanya permasalahan pada saluran irigasi. “Embung-embung harus dioptimalkan fungsinya. Bukan sekadar untuk sarana rekreasi wisata,” pinta warga Gamping Kidul, RT 1/17, Ambarketawang, Gamping, Sleman itu.

Pembinaan dan pendampingan terhadap petani juga perlu dimaksimalkan. Qiyar mengimbau pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor agrobisnis. Bisa dengan menggandeng pihak swasta/investor. Untuk membeli hasil panen dengan harga maksimal, yang bisa membuat petani tersenyum. Bukan sebaliknya.

Seperti yang kerap kali terjadi. Setiap musim panen harga komoditasnya selalu anjlok. Karena stok melimpah. “Kalau hasil panen dibeli pemerintah, maka kesejahteraan petani akan lebih terjamin,” tuturnya.

Selain pembinaan kelompok tani, pemerintah perlu hadir mendampingi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memproduksi hasil-hasil pertanian.

Hal itu telah dilakukan Qiyar sejak beberapa tahun terakhir ini. Dengan memproduksi emping melinjo. Untuk memberdayakan ibu-ibu rumah tangga. “Setiap minggu kami memproduksi satu ton melinjo. Tiap kilonya menghasilkan empat ons emping kualitas premium,” ungkapnya.

Konsep pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga  tersebut, Qiyar menyediakan bahan mentahnya. Ibu-ibu itulah yang mengolah. “Pemasarannya sudah ada sendiri. Dengan begitu ibu-ibu itu bukan hanya mendapat penghasilan. Tapi juga keterampilan,” ucap Qiyar, yang juga pengusaha galvalum pasir dan genting metal pasir.

Sementara ini Qiyar mendatangkan bahan mentah melinjo dari Kabupaten Bantul. Dia berharap, ke depan melinjo bisa dibudidayakan di lahan produktif Sleman. Atau sebagai tanaman selingan padi. (*/yog/by)