RADAR JOGJA – Penelitian skripsi karya mahasiswa Prodi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Vindy Fitriana Martanti berhasil dikembangkan menjadi desain produk lampu pijar listrik. Karya skripsi Vindi berjudul “Desain Produk Penghasil Listrik Arus DC Memanfaatkan Tanah Liat Merah (ETAM) dengan Metode Quality Function Deployment (QFD)”.
Dalam risetnya, Vindy membuat lampu pijar dengan bahan dasar akrilik. Namun dalam prakteknya, bahan dasar bisa menyesuaikan dengan apa yang ada di wilayah setempat. Sudah hampir satu tahun ini hasil penelitiannya dikembangkan menjadi produk lampu pijar listrik dan dapat dimanfaatkan sebagai lampu pijar listrik rumah tangga di wilayah Desa Mura Dilam, Kecamatan Kunto Darusalam, Kabupaten Rukan Hulu, Riau.
Vindy mengatakan, usai wisuda sarjana, dia mensosialisasikan karya skripsinya di Pekanbaru. Secara kebetulan ada rekannya dari Universitas Pasir Pangarairan yang tertarik.  Kemudian desain produk yang dirancangnya diproduksi masal menjadi lampu pijar listrik arus DC, memanfaatkan free energi ETAM. Pembuatan  lampu pijar listrik secara masal ini difasilitasi Tim Program Kemitraan Masyarakat Universitas Pasir Pengaraian (PKM UPP) dan Kemenristekdikti.
Desain lampu pijar listrik karya Vindi mudah diproduksi di wilayah-wilayah yang memiliki kondisi tanah liat merah. Biaya produksi dapat terjangkau masyarakat dan dapat bertahan hingga delapan bulan. “Hanya saja perlu perawatan  seperlunya, karena ionisasi memakai air garam, sehingga perlu pengecekan kelembaban tanah, korosi pada cu dan al,” tambahnya.
Energi tanah liat merah (ETAM) merupakan penghasil energi listrik terbaik, karena memiliki senyawa sulfat atau SO4.  Vindy memaparkan, setiap sel voltanya menghasilkan voltase + 0,4 volt. Untuk sel volta terdiri dari tanah liat merah yang sudah memiliki kadar air +- 40%. Anoda dan Katodanya al dan cu. Sementara untuk membantu ionisasi memakai larutan air garam. Komposisi desain seperti itu mampu menyalakan lampu 12 volt dengan 20 sel volta.
Sementara yang dikembangkan di Desa Mura Dilan, Kecamatan Kunto Darusalam, Kabupaten Rukan Hulu, Riau, elektrodanya yakni silinder pejal yang merupakan bentuk terbaik.  “Untuk anodanya menggunakan lempeng tembaga dan katodanya dari lempeng seng,” ujar Vindy.
Untuk perawatan lampu agar tegangan tetap stabil yaitu dengan mengecek komponen-komponen dari sel volta berupa penggantian plat seng dan plat tembaga yang mengalami korosi, kira kira delapan bulan sekali. Injeksi cairan garam ke dalam sel volta jika sudah mulai kering.
Lampu pijar listrik ini bisa dipakai untuk penerangan jalan dan penerangan rumah tangga, dengan biaya  murah, yang diperlukan hanyalah perawatan. Dan bisa mengurangi beban pasokan listrik dari PLN.
Sementara itu dosen pembimbing Vindy, Trio Yonathan Tejo Kusumo mengatakan bahwa karya skripsi mahasiswinya itu merupakan penggembangan berbagai percobaan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu hasil percobaannya dalam mendesain produk lampu pijar listrik ini pernah dipamerkan di Islamic Higher Learning (IHL) Expo  memeriahkan agenda Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang ke 17 tahun 2017, di Jakarta. Sebuah agenda tahunan yang diselenggarakan Dirjend Pendis, Kementerian Agama RI.
“Saat ini sedang melakukan proses untuk mendapatkan hak cipta dari Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI),” ujarnya. (sky/tif)