RADAR JOGJA – Peringatan weton atau hari lahir KGPAA Paku Alam X setiap Sabtu Kliwon tak hanya dimeriahkan upacara Ganti Dwaja Bregada Jaga Kadipaten Pakualaman. Namun pada malam harinya usai upacara ganti dwaja dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

“Baik upacara ganti dwaja maupun wayangan merupakan satu rangkaian dari atraksi wisata budaya di Kadipaten Pakualaman,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY Wardoyo di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman pada Sabtu (12/10) malam.

Pentas wayang kulit dengan dalang Ki Gondo Suharno itu menampilkan lakon Antareja takon Bapa. Sebelum pentas dimulai KRT Praja Anggana mewakili Paku Alam X menyerahkan wayang Antareja kepada Ki Gondo Suharno.          Wardoyo menjelaskan atraksi wisata budaya itu diselenggarakan Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Kadipaten Pakualaman. Selain menghibur masyarakat, acara tersebut menjadi atraksi wisata bagi wisatawan. “Secara kebetulan bertepatan dengan weekend (akhir pekan, Red),” ungkapnya.

Dikatakan, Atraksi Wisata Budaya Upacara Ganti Dwaja Bregada Jaga Kadipaten Pakualaman telah berjalan empat tahun.  Kegiatan tersebut terbukti membuahkan hasil. Mampu menghidupkan destinasi wisata di tengah Kota Jogja. “Sekaligus menyemarakkan wisata malam di Pakualaman,” katanya.

Dari tahun ke tahun indeks kepuasan masyarakat terhadap pariwisata terus meningkat. Triwulan pertama 2019, indeks naik 88,24 persen. Sedangkan kunjungan wisatawan pada triwulan pertama 2019 ke DIY sudah hampir menyentuh angka 2 juta.  Tepatnya 1,8 juta wisatawan.

Tak salah, lanjut Wardoyo, atraksi wisata budaya di Sewandanan Pakualaman menjadi oase bertemunya berbagai genre seni dari pelosok DIY. Apalagi  saat ini, antusiasme generasi muda di DIY menekuni seni tradisional sangat tinggi. Mereka menganggap seni tradisi bukan lagi nomor dua.

Dengan atraksi wisata budaya itu, Dinas Pariwisata DIY ingin membangun kekuatan atraksi budaya yang diminati  masyarakat. Sehingga kunjungan wisatawan di malam hari semakin meningkat. “Kami mencoba seberapa kuat destinasi wisata di tengah Kota Jogja mampu menarik minat wisatawan,” ungkap alumnus ISI Yogyakarta ini.

Diceritakan,  upacara ganti dwaja bregada jaga Kadipaten Pakualaman terinspirasi atraksi wisata pergantian prajurit jaga di Istana Buckingham Inggris.

Kini setelah berjalan empat tahun, atraksi wisata budaya tersebut menjadi salah satu ikon atraksi wisata di Kota Jogja. Setiap Sabtu Kliwo sudah terbangun image di masyarakat terhadap event tersebut.  “Ganti Dwaja ini punya daya tarik wisata dan magnet kuat bagi wisatawan. Bahkan menjadi aset wisata,” kata dia.

Atraksi wisata budaya itu juga diberi sentuhan sehingga menjadi ikonik. Di alun-alun Sewandanan juga digelar pentas jatilan dan reog.  “Ganti dwaja kami jadikan ikon sedangkan pentas seni sebagai acara pendukung,” terangnya.

Di bagian lain, KRT Praja Anggana menyampaikan pesan Paku Alam X. Dikatakan, upacara ganti dwaja maupun pentas wayang kulit itu  merupakan bentuk apresiasiadipaten Pakualaman terhadap seni tradisi.  “Lakon Antareja Takon Bapa menginspirasi bagaimana hidup berbangsa,” ucapnya.

Ki Gondo Suharno berasal dari Desa Bangunharjo, Sewon, Bantul. Pentas diawali dengan tari Gambyong Mari Kangen. Tari itu dibawakan dua penari Tri Yuli, mahasiswi ISI Yogyakarta dan Angkin yang masih pelajar SD. (kus)