Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY mempunyai berbagai kegiatan literasi. Salah satu yang hangat seputar upaya pencegahan terhadap terorisme dan radikalisme. Literasi ini melibatkan berbagai kalangan. Khususnya menyasar kalangan milenial dan ibu-ibu rumah tangga.

Kusno S, Utomo, Jogja

Contoh pelibatan anak muda itu seperti terlihat di pendapa Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Tak kurang dari 50 orang peserta mengikuti kegiatan literasi yang berlangsung pada Sabtu (12/10).

Acara tersebut didesain dengan format yang santai. Dalam bentuk talkshow. Ini bertujuan mengantisipasi kebosanan. Ada pula musik band. Selain itu peserta juga dihibur dengan stand up comedy dari sejumlah anak-anak muda Jogja. “Kami mengapresiasi potensi lokal,” ujar Kepala Bidang Infomasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo DIY Rahmat Sutopo di sela acara.

Narasumber yang tampil ada beberapa orang. Antara lain Anggota DPRD DIY Eko Suwanto, Kepala Dinas Kominfo Rony Primanto Hari dan perwakilan dari Polda DIY. Eko menyampaikan pentingnya membangun kesadaran teroris menjadi ancaman nyata bagi bangsa. Selain itu, dia mengajak masyarakat berpartisipasi secara aktif. Bahkan dia meminta berbagai elemen seperti satuan Linmas dan dasawisma menjadi agen bagi bangsa ini melawan terorisme dan radikalime.

“Peran ibu-ibu yang menjadi anggota dan  pengurus dasawisma sangat penting. Kalau perlu dasawisma menjadi garda depan dalam mencegah terorisme,” ajak Eko.

Dia mengapresiasi penyelenggaraan literasi digital oleh Dinas Kominfo DIY. Forum dialog terbuka untuk pencegahan aksi terorisme perlu dilakukan lebih intensif diadakan di seluruh DIY. Tujuannya meningkatkan kesadaran bersama meredam aksi terorisme yang mengancam kehidupan berbangsa.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakart ini  secara terbuka mengharapkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.  “Kita tak boleh takut hadapi ancaman teror. Mari memperkuat upaya deteksi dini berkait aksi pelaku teror.

Termasuk bijak kala menggunakan jemari kita di dunia maya,” ungkap alumni Lemhanas ini.  Bijak dalam bermedia sosial, menahan diri agar tidak terjebak menjadi penyebar konten ujaran kebencian, berita bohong atau hoax. “Butuh kesadaran bermedia yang sehat,” ingatnya.

Sedangkan Rony mengungkapkan, instansinya terbuka menjalin kerja sama. Termasuk dengan memberikan berbagai pelatihan bimbingan teknis (bimtek). Khususnya menyangkut pemanfaatan teknologi informasi. “Silakan datang ke kantor kami di Jalan Katamso. Kami sangat terbuka,” ujarnya.

Rony juga menginformasi, Dinas Kominfo DIY telah meluncurkan berbagai aplikasi layanan dan informasi bagi masyarakat. Di antaranya, aplikasi Jogja Istimewa. Bagi Rony kerja sama dan sinergi dengan masyarakat sangat dibutuhkan.

Kegiatan literasi digital ini akan terus dilakukan. Khusus soal tema pencegahan terorisme dan radikalisme diadakan lima kali hingga akhir 2019 ini. (*)