RADAR JOGJA – Namanya singkat dan sederhana:  Ngadiman. Motto hidupnya pun simpel: “Bekerja dan Berjuang bersama Masyarakat.”

Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini merupakan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Dia tercatat pernah menjadi guru sekolah dasar. Lalu menjabat kepala desa di Sambirejo, Prambanan. Dua periode. Tepatnya selama 16 tahun, 10 bulan. Saat menjabat kepala desa, statusnya cuti di luar tanggungan negara.

Sosok kelahiran Sleman, 8 Desember 1961, itu juga pernah berdinas di Bagian Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman. Terakhir, sebelum pensiun, Ngadiman menghabiskan masa pengabdiannya sebagai PNS di kantor Kecamatan Kalasan.

Kini Ngadiman menjabat anggota DPRD Sleman periode 2019-2024. Dia lolos ke parlemen dengan perolehan 2.915 suara. Dari daerah pemilihan Sleman 3 (Ngemplak, Kalasan, Prambanan). “Saya ingin terus bisa mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya Selasa (15/10).

Di lembaga legislatif Ngadiman akan melanjutkan program-programnya yang telah berjalan selama ini. Yakni pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kreatif. Khususnya di sektor pariwisata.

Optimalisasi badan usaha milik desa (BUMDes) menjadi salah satu goal-nya. Ngadiman ingin menularkan sukses pengelolaan Taman Tebing Breksi di Kecamatan Prambanan kepada BUMDes lain di Kabupaten Sleman.

Ketika itu Ngadiman menjabat direktur BUMDes Sambimulyo, Sambirejo, Prambanan. Di mana Taman Tebing Breksi menjadi komoditas unggulannya. “Itu dari nol. Mulai karang taruna hingga menjadi sebuah lembaga terorganisasi,” ucap warga Dusun Nglengkong, RT 02/ RW 07, Sambirejo, Prambanan, Sleman.

Perjuangan BUMDes Sambimulyo membuahkan hasil signifikan. Di unit Tebing Breksi saja semula hanya dikelola lima orang. Kini tak kurang 128 warga yang bisa diberdayakan di destinasi wisata baru andalan Kabupaten Sleman dan Provinsi DIJ itu.

Hal itu pula yang membuat BUMDes Sambimulyo masuk 10 besar dari 37 BUMDes se-Kabupaten Sleman. “Dulu warga Sambirejo yang berprofesi sebagai penambang batu alam mendapat upah Rp 50 ribu per hari. Sekarang pendapatan mereka bisa lebih dari dua kali lipat sejak mengelola Tebing Breksi,” ungkap Ngadiman.

Menurutnya, kunci sukses mengelola destinasi wisata berbasis swadaya masyarakat adalah akuntabilitas tata administrasi yang terbuka. Didukung personel yang mumpuni, tangguh, tanggen, dan tanggung jawab.

Mumpuni berarti mampu melaksanakan tugas dengan baik, meski tanpa bantuan orang lain. Serta menguasai keahlian atau keterampilan tertentu. Sedangkan tangguh adalah kuat, andal, dan pintar. “Tanggen itu konsisten. Tidak mencla-mencle,” tegasnya.

Ngadiman mengatakan, pengembangan sektor pariwisata di wilayah timur Sleman membutuhkan  sarana dan prasarana pendukung. Terutama akses jalan kabupaten. Sehingga bisa tercipta konektivitas antardestinasi wisata. Seperti Candi Ijo, Watu Papal, Watu Langit, dan Embung Sumber Watu. Sarana tersebut sekaligus untuk memaksimalkan potensi camping hill, yang menjadi unggulan  Taman Tebing Breksi.

Ngadiman berharap rencana pembangunan jalan provinsi yang menghubungkan kawasan Nglanggeran, Gunungkidul dengan Bokoharjo, Prambanan bisa terealisasi tahun depan. Atau selambat-lambatnya pada 2021. “Detail engineering design (DED)-nya sudah berjalan. Saat ini proyek tersebut masuk tahap sosialisasi rencana pembebasan lahan,” jelas Ngadiman. (*/yog/laz)