Niat baik tak selalu berakhir baik. Niat baik belum tentu juga membawa kita ke jalan yang baik pula. Itu kesan pertama yang dirasakan usai menonton Perempuan Tanah Jahanam.

Film garapan Joko Anwar yang rilis 17 Oktober 2019 ini tak hanya sebagai the next level-nya film horror tanah air. Tak hanya dari sisi cerita, pengambilan gambar, dan jump scare-nya yang seolah mengolok-olok, dilihat dari sisi positif, film-film horror Indonesia masa kini. Film ini bahkan mengajak penontonnya berpikir keras setelah keluar dari bioskop. Kenapa? Karena inti ceritanya yang berlapis-lapis. Sebuah niat baik yang belum tentu menempuh jalan yang baik pula.

Sepakat sih dengan sutradara Dimas Djayadiningrat yang mengumpat film ini. Dalam sebuah tayangan yang diunggah oleh Joko Anwar (Jokan) di akun Instagram-nya, Dimas Djay yang usai menonton film ini sempat mengumpat sembari bilang kalau filmnya bikin mikir. Karena memang filmnya bikin mikir banget. Pertama diajak mikir tentang inti ceritanya. Kedua, film ini juga menggoyahkan makna benar dan salah yang terlihat hitam dan putih. Film ini menawarkan sebuah ide, bahwa benar dan salah itu abu-abu, tak jelas warnanya dari perspektif yang berbeda dari tiap-tiap pikiran.

Jika dibandingkan film horror garapan Jokan sebelumnya, Pengabdi Setan, film ini memberikan aura yang berbeda begitu kita keluar dari bioskop. Kalau di film sebelumnya, aura ngeri hantu-hantunya masih dirasakan begitu keluar dari pintu bioskop. Tapi kalau film ini, hmmm gitu deh. Mikir itu tadi.

Aura kelam dan gore dari film ini mengingatkan pada Kala yang dibuat Jokan pada 2007 silam. Dari sisi cerita menyuguhkan skrip yang menurut saya segar dari sisi ide. Tak lepas juga dari kearifan lokal Indonesia dengan menampilkan sosok Ki Saptadi yang seorang dalang.

Jokan tampaknya juga jeli melihat potensi masing-masing actor/actress yang dipilihnya. Christine Hakim yang berperan menjadi Nyi Misni dan katanya merupakan peran pertamanya sebagai antagonis benar-benar bisa menampilkan sisi kelam seorang ibu. Begitu pula Tara Basro dan Marissa Anita yang aktingnya bagus. Paling menarik adalah penampilan Asmara Abigail yang mampu menunjukkan kesan misteriusnya di sepanjang film.

Overall, film ini saya rekomendasikan untuk ditonton di bioskop. Tapi ingat, jangan ajak anak-anak saat menonton film ini. Film ini diperuntukkan bagi orang dewasa, horror dalam film ini berbeda dan belum selayaknya ditonton untuk anak-anak. Well, akhir kata, angkat topi untuk Joko Anwar. (ila)