RADAR JOGJA – Tanah menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman pertanian. Kesuburan tanah harus diperhatikan. Pastikan tanah memiliki unsur hara yang cukup. Agar tanaman dapat  tumbuh ideal.

Sektor peternakan memiliki peran krusial terkait hal tersebut. Yakni sebagai penghasil limbah kotoran ternak. Yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Dan diolah menjadi pupuk bokashi penyubur tanaman.

Bokashi adalah pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik. Misalnya kompos atau pupuk kandang. Proses fermentasinya dengan bantuan mikroorganisme pengurai, seperti mikroba atau jamur fermentasi.

Hal itu disampaikan Sucipto MSi, dosen  Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang  (Polbangtan YoMa) Jurusan Peternakan, pada Bincang Agribisnis Siaran Pedesaan FastFM Magelang  (23/10).

Lebih lanjut Sucipto memaparkan, salah satu limbah kotoran ternak  yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk bokashi adalah feses domba. “Yang membuat berbeda dari pupuk lainnya karena bokashi dihasilkan dari proses fermentasi  pupuk padat dalam kondisi sudah terurai, sehingga mengandung lebih banyak unsur hara.  Baik makro maupun mikro yang siap  segera diserap akar tanaman,” jelasnya.

Rata-rata kandungan pupuk bokashi sudah mencakup unsur hara makro: N, P, K, Mg, S, Ca. Juga mengandung unsur hara mikro: Zn, B, Fe, Cu, Mn, Mo, dan Cl. Karena memiliki unsur hara makro dan mikro yang lengkap,  bokashi memiliki keunggulan dibanding pupuk lain.  Yakni meningkatkan populasi, keberagaman, dan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan, serta menekan perkembangan pathogen (N, P, dan K).

Selain itu, unsur-unsurnya mampu menetralkan pH tanah, menambah kandungan humus, dan  meningkatkan granulasi atau kegemburan tanah. Juga meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik, “Manfaat yang terpenting adalah meningkatkan kesuburan dan produksi tanaman,” tambah Fitri Sulistyani, mahasiswa Polbangtan YoMa semester 7, yang mendampingi dosen dalam Bincang Agribisnis tersebut.

Dikatakan, pembuatan pupuk bokashi dari feses domba dapat memanfaatkan limbah isi rumen domba sebagai starternya atau pengganti EM4. Starter ini dinamakan Mikroorganisme Lokal (MOL). Limbah isi rumen sangat potensial dimanfaatkan sebagai stater pupuk bokashi. Sebab,  di samping bahan pakan yang belum tercerna juga terdapat organisme rumen yang merupakan sumber vitamin B.

”Sebelum  membuat pupuk bokashi, kita harus membuat starter dari rumen domba terlebih dahulu,” ucapnya.

Adapun tahapan membuat starter rumen domba, sebagai berikut: pertama, siapkan jerigen dan botol plastik dibalut lakban hitam mengelilingi hingga tertutup seluruh permukaan. Kedua, rebus dedak 0,5 kg dalam 2,5 liter air kemudian dinginkan dan saring. Ketiga, saring isi rumen, lalu mencampur isi rumen 1 liter, molasses 1 liter, dan rebusan air dedak tadi. Keempat, masukkan larutan dalam jerigen, tambahkan selang yang terhubung ke botol berisi air. Kelima, pastikan jerigen dalam kondisi anaerob (kedap udara) dan simpan di tempat yang tidak terpapar sinar matahari.

MOL akan terbentuk melalui fermentasi yang berlangsung 3-4 hari. Selanjutnya barulah pembuatan pupuk bokashi. Caranya, pertama, buat larutan MOL. Kedua, siramkan larutan tersebut ke dalam adonan (pupuk kandang dan sekam) perlahan sampai kandungan air mencapai 30%. Ketiga, buat gundukan adonan di atas ubin kering setinggi 15-20 cm, kemudian adonan ditutup terpal/karung goni/plastik selama 4-7 hari. ”Suhu adonan harus dipertahankan 40-50oC,” jelas Sucipto.

Setiap suhu mulai mendekati 50oC karung goni atau plastik/terpal dibuka dan lakukan pengadukan. Ini agar pupuk bokashi tidak rusak akibat suhu yang terlalu tinggi. Setelah proses fermentasi selesai 4-7 hari, bokashi diangin-anginkan hingga mencapai suhu ruangan. Selanjutnya pupuk bokashi siap diaplikasikan dalam pembudidayaan pertanian/tanaman. (*/yog/ila)