RADAR JOGJA – Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro memiliki semangat tinggi dalam melestarikan kekayaan seni dan budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Walau berkiblat pada tradisi,  suami Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu ini tetap mengusung semangat milenial.  Mengenalkan kearifan lokal di era kekinian.

Suasana di Bangsal Mandalasana, Keraton Jogja, Minggu pagi (27/10) itu terasa berbeda. Para abdi dalem Musikan Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Kridhomardowo sudah terlihat sibuk. Seluruhnya siap dengan peralatan musiknya masing-masing.

Berbeda dengan hari biasa, para abdi dalem ini mengusung alat musik barat jenis tiup. Mereka memainkan alunan nada diatonis. Mulai dari lagu nasional hingga lagu daerah khas Indonesia. Maklum saja, hari itu bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda.

Dalam barisan para abdi dalem terlihat sosok KPH Notonegoro. Tak sekadar menonton, pria ini turut bergabung dengan para abdi dalem. Tangannya lihai bergerak ke kanan dan kiri. Birama 4/4 luwes mengiringi lagu Bangun Pemudi Pemuda.

“Iya ini jadi kondaktor lagi setelah lama absen. Kalau basic jurusan vokal saat masih kuliah di Amerika dulu. Plus kondakting tapi untuk quier, ambil satu semeseter,” katanya saat ditemui usai pementasan di sisi barat Bangsal Mandalasana (27/10).

Grogi pasti, terlebih Kanjeng Noto sempat vakum cukup lama dari dunia ini. Bahkan dia mengakui pementasan ini merupakan yang perdana. Walau begitu tak butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri.

“Sudah vakum puluhan tahun sejak zaman kuliah. Kalau tidak salah, ini kedua kali jadi kondaktur. Kemarin latihan juga hanya sekali dengan teman-teman,” ujar menantu Raja Keraton Jogja Sultan HB X ini.

Berbicara abdi dalem Musikan, seakan tidak ada habisnya. Kanjeng Noto ingin ada regenerasi dalam melestarikan semangat kearifan lokal. Termasuk menghidupkan kembali abdi dalem Musikan yang sudah lama vakum. Tentunya sesuai ciri khas musik diatonis.

Sang pangeran mencoba mengulik sejarah musik pada zaman dahulu. Terutama melihat peran keraton dalam sejarah musik di Indonesia. Bagaimana peran abdi dalem dalam mengenalkan musik jenis orkestra sejak Indonesia belum berdiri.

“Zaman dulu yang punya orkestra di Indonesia mungkin hanya keraton, karena dulu kan untuk memiliki sebuah orkestra itu biayanya cukup besar. Bisa dibilang sejarah musik barat khususnya orkestra di Indonesia itu harusnya tidak bisa lepas dari keraton,” jelas Penghageng KHP Kridhomardowo ini.

Pertautan ini seakan menjadi cambukan baginya. Kanjeng Noto memiliki impian kelompok musik orkestra keraton kembali berjaya. Caranya dengan menghidupkan kembali pertunjukan-pertunjukan secara rutin. Diawali  pertunjukan orkesta di Bangsal Mandalasana milik keraton.

Menurutnya, sebagai lembaga adat yang mengawali, keraton harus konsisten. Apalagi melihat sejarah musik sejak keraton berdiri. Tidak hanya musik klasik tradisional, tapi juga perkenalan dengan musik klasik barat.

“Karena yang mengawali dulu adalah keraton. Sebagai perintis (musik orkestra di Indonesia) harusnya juga tidak tertinggal. Diawali dari abdi dalem musikan yang kemudian bisa menghidupkan lagi orkestra Keraton Jogjakarta,” harapnya.

Kanjeng Noto juga berencana mencari manuskrip dan catatan lawas milik keraton. Berupa komposisi musik dan pertunjukan orkesta pada zaman dulu. Selanjutnya dihidupkan melalui rekonstruksi seni dan budaya.

“Sedang mencari manuskrip-manuskrip dan catatan lama musik-musik yang dulu pernah dimainkan pada zaman sebelum kemerdekaan oleh kelompok musikan. Kalau sudah ketemu, akan kami coba mainkan lalu pentaskan,” katanya.

Di satu sisi Kanjeng Noto tak terpaku pada ciri kuat musik orkestra. Identikalnya berupa lagu-lagu dengan komposisi musik barat. Semangat nasional dan juga kearifan lokal akan menjadi komposisi selanjutnya bagi abdi dalem Musikan.

Apalagi menilik sejarah, lagu nasional belum menggema pada masa keraton klasik. Barulah memasuki masa-masa perjuangan dan kemerdekaan, lagu nasional bermunculan. Itulah mengapa direktori lagu nasional di Keraton belum terlalu banyak.

Walau begitu, Kanjeng Noto menjamin semangat ini tak akan melukai pelestarian seni klasik dan tradisional. Seni musik orkestra dan tradisional akan berjalan beriringan. Bahkan tak menutup kemungkinan adanya kolaborasi antara diatonis dan pentatonis. (dwi/laz)