Menjadi juri perlombaan burung kicau bukanlah keinginan terbesarnya. Namun, kegiatan itu menjadi hobi bagi Seviarta Budiarti. Katanya, jadi tantangan yang menggembirakan.

MEITIKA CANDRA L, Radar Jogja, Bantul

Juri laki-laki dalam perlombaan burung kicau itu sudah biasa. Namun, jika jurinya seorang perempuan, ini yang tidak biasa. Nah, itulah yang dilakukan Seviarta Budiarti, 20, mahasiswi Universitas PGRI Jogjakarta, Minggu (3/11).

Dia bergabung sebagai tim juri perlombaan burung kicau di Pasar Unggas Pleret. Dengan jeli dan penuh ketelatenan, Seviarta melakukan penilaian pada perlombaan burung pleci.

Diungkapkan, profesi juri yang dilakoni belum begitu lama. Sekitar dua tahun lalu. kendati begitu, dia mengenal perlombaan burung kicau sejak 2016. Bermula dari seorang teman yang memiliki hobi pecinta burung kicau. Lantas dia turut menyaksikan perlombaan.

“Karena sering nonton, saya ditawari jadi juri. Lalu, tak iya kan,” katanya.

Tak ingin melewatkan kesempatan dan kepercayaan, tawaran tersebut dia terima. Meski pengetahuan penjurian masih minim. Dia yakin semua ilmu dapat dipelajari. Asalkan rajin mempelajari, mengunjungi klub atau komunitas di berbagai gantangan.

Meski begitu, menggeluti profesi tersebut tidak menyulitkan dalam membagi waktu. Jadwal penjurian hanya diambil saat hari libur. Di hari biasa, ia menjalankan rutinitasnya sebagai mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling (BK).

Memiliki profesi itu bukanlah hal mudah bagi perempuan yang kerap disapa Sevia, warga Segarayasa I, Pleret, Bantul, ini. Konon, profesinya sempat ditentang oleh orangtuanya. Dia dilarang menekuni kegiatan itu lantaran selalu pulang larut, saat menjadi juri pertandingan. Namun, perlahan dia mampu membuktikan.

“Bahwa profesiku itu merupakan hobi yang sulit dia hindari. Dan mampu menghasilkan,” ungkapnya. Tak peduli penilaian buruk terhadapnya, perlahan orangtuanya mengizinkan.

Tinggal di wilayah Pleret yang notabe mayoritas warga mengembangkan burung kicau. Dia berharap ke depan potensi itu melekat kuat di wilayahnya. Sehingga mampu mengangkat taraf hidup masyarakat sekitar.

“Pleret jadi terkenal. Perlombaan semakin aktif, kunjungan semakin bertambah, dan harga jual burung rumahan juga semakin naik,” harapnya.

Dia mengajak seluruh pemuda untuk tidak takut menggeluti hobi apapun itu. Jika digeluti dengan sungguh-sungguh, maka dapat memberikan hasil yang sesuai.

Ya, kini namanya kian terangkat di kalangan pencinta burung kicau. Bahkan dia kerap mendapatkan tawaran juri di berbagai event organizer. (laz)