RADAR JOGJA – Bendera Merah Putih raksasa berukuran 24 x 18 meter Minggu pagi (10/11) berkibar menghiasi dinding Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Pada bagian sisi timur dan barat, sembilan violinis cilik tampil membawakan lagu kebangsaan. Ada satu pemain biola yang tampak menggelantung di ketinggian. Ikut melantunkan irama lagu perjuangan di bagian tengah monumen.

Itu merupakan rangkaian pelaksanaan upacara untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November di Monjali, Ngaglik, Sleman.

Ketua Panitia Nanang Dwinarto menuturkan, kegiatan itu menggambarkan aksi kepahlawanan atau heroisme. Bertujuan untuk menggugah semangat kepahlawanan.

Dikatakan, Wage Rudolf (WR) Supratman bersusah payah menciptakan lagu perjuangan ketika ditangkap Belanda. Untuk mengingat perjuangannya, menyanyikan lagu Indonesia Raya pun dilakukan dengan susah payah, yakni dengan menggantung di Monjali.

“Menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi biola yang pemainnya menggelantung menggambarkan heroisme,” jelasnya.

Penyelenggaraan dikawal tim panjat tebing Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN) Jogjakarta dan Mapala Galaxi Universitas Proklamasi.

Sedangkan 9 violinis cilik pengiring berasal dari Sanggar Biola Quinta Jogjakarta. Puluhan siswa MTsN 6 Sleman, AMTA, dan pegawai Monjali berpartisipasi menjadi peserta upacara.

Pemasangan bendera raksasa menjadikan kesulitan tersendiri bagi penyelenggara. Dikarenakan ukuran bendera yang besar dan beratnya. Waktu pemasangan bendera membutuhkan waktu hingga setengah hari.

“Karena kemarin anginnya kencang sekali, jadi sempat ditunda,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini Nanang berharap masyarakat lebih tahu dan mengerti tentang kepahlawanan. Paham kepahlawanan mesti tetap diwarisi di setiap generasi, baik di masa damai saat ini.

Generasi muda harus mengambil bagian untuk terlibat dan mengambil peran dalam mengisi kemerdekaan di berbagai bidang. “Semoga jiwa-jiwa adiluhung para pendahulu ditiru masyarakat sekarang,” jelasnya. (cr16/laz)