Kedekatannya dengan orang dengan HIV/AIDS (Odha) dan para pekerja seks komersial (PSK) membuat Kepala Puskesmas Gedongtengen Kota Jogja, dr. Tri Kusumo Bawono terpilih sebagai pemenang terbaik dokter teladan DIJ. Dan maju ke tingkat nasional. Apa yang dilakukannya?

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Bertugas di Puskesmas Gedongtengen, yang dekat dengan lokasi hiburan malam, membuat dr. Tri Kusumo Bawono harus bisa dekat dengan mereka. Inovasi pun dibuat. Di antaranya dengan Pelayanan Ramah Odha (Peradha) pada tahun 2011 silam.

Dia melihat semakin meningkatnya kasus Odha dan masih adanya stigma diskriminasi dari petugas kesehatan maupun masyarakat terhadap mereka. Membuat laki-laki 47 tahun ini harus mulai berinovasi terhadap penanganan yang tepat guna meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Saya berpikir bagaimana kalau puskesmas sudah ada ramah remaja, ramah lansia, maka harus menerapkan ramah Odha,” katanya.

Ide inovasi itu muncul pada 2011. Pada saat datang dari seorang perempuan yang melahirkan tanpa adanya pertolongan medis di wilayah Pasar Kembang (Sarkem).

Karena si perempuan tersebut pendarahan sangat dahsyat dibawa ke salah satu layanan kesehatan oleh timnya dua dokter dan satu bidan. Namun si pasien tersebut justru tidak mendapat pelayanan dengan baik dan bersahabat oleh tenaga medis.

Padahal setelah itu dilakukan pemeriksaan darah, negatif HIV. “Saya melihat ini, berarti Sarkem ini sudah terstigma ketika ada orang datang dari sana dia akan dianggap sebagai orang HIV,” jelasnya belum lama ini.

Tujuan Peradha itu, untuk mendekatkan layanan yang lebih baik dan manusiawi. Serta tentu saja welcome. Selain itu mempermudah akses pelayanan maupun memberi jalur tanpa antrian untuk pasien terkait.

Pasien-pasien terkait misalnya ada sebagian pasien TBC dan penyakit-penyakit menular lainnya yang bisa menularkan ke orang lain. “HIV nya nggak masalah tapi TBC nya ini kalau dia batuk menular ke pasien-pasien yang lain,” tuturnya.

Sebenarnya sebelum mencanangkan inovasi ini, Ayah tiga anak itu sudah melakukan pelayanan door to door ke daerah-daerah risiko. Seperti Sarkem, terhadap PSK, tempat hiburan malam, lembaga pemasyarakatan (lapas), dan lain-lain.

Untuk melakukan pendampingan, Dokter Tri menceritakan mulai masuk ke wilayah-wilayah prostitusi tersebut sejak 2004. Tak mudah menjangkau wilayah-wilayah tersebut. Karena tak jarang harus berhadapan dengan ‘penguasa’ setempat. Dengan berbagai konsekuensi.

“Karena bekerja itu kan ibadah, ketika keluar pelayanan kami bisa diterima masyarakat dan bermanfaat. Jadi bisa meningkatkan kualitas hidup mereka dan produktif lagi untuk bekerja,” ucapnya tentang motivasinya melakukan itu semua.

Karena kebutuhannya itu maka dia membuka klinik One Stop Service sejak 2007. Hal ini guna memberikan pelayanan yang lebih baik bagi mereka. Pendampingan yang dilakukan seperti pemeriksaan darah bahkan pengobatan hingga secara teratur.

“Pendekatannya kami dampingi dulu mbak-mbaknya itu, lalu dibawa ke puskesmas, kami sarankan minum obat,” ceritanya.

Figur dr Tri sendiri dikenal ramah dan loyal terhadap si pasien yang merupakan pekerja seks. Karena itu dia dijuluki sebagai dokter idola “mbak-mbak” Sarkem. Selama ini mungkin sudah tak asing di kalangan masyarakat Kota Jogja terlebih di kawasan Sosrowijayan dan Sarkem.

Dia terbilang begitu aktif melakukan sosialisasi dan penanganan terutama terkait kesehatan masyarakat yaitu dalam menangani kualitas kesehatan “mbak-mbak” di Sarkem. Terutama terkait penyakit menular seksual dan HIV.

Dengan layanan ini, pada 2016 yang awalnya jumlah pasien masih 56 orang yang berobat secara rutin. Dengan menerapkan pelayanan ramah odha ini akhirnya dia bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan baik yaitu meningkatnya jumlah pasien.

“Artinya mereka jadi percaya dengan puskesmas,” tambahnya.

Sekarang pasien yang dibawah puskesmas Gedongtengen ini ada sekitar 322 sampai hari ini. “Jadi naiknya bertahap dari 58, 100, 200, dan 320, bahkan ada sempat sampai 440 pasien,” katanya.

Kasi Pengembangan Kapasitas SDM Keesehatan, Dinas Kesehatan Kota Jogja, Ari Murtiyani mengatakan pemilihan tenaga kesehatan teladan di puskesmas ini dimulai dari tingkat kecamatan.

Khusus DIJ, pada 2019 ini disepakati bersama kabupaten dan kota bahwa yang dipilih adalah lima jenis kategori meliputi dokter, bidan, perawat, tenaga teknis kefarmasian dalam hal ini asisten apoteker, dan ahli teknologi laboratorium kesehatan atau analis kesehatan. (pra)