CERITA film ini bertolak dari sebuah reuni mantan bocah-bocah panti yang sekarang telah berumah tangga dan mencerminkan pribadi yang mapan. Sayangnya, ini bukan sebuah reuni haha-hehe karena mendapat kabar bahwa pengasuh panti kesayangan mereka sedang sakit keras.

Masing-masing membawa keluarganya ke panti asuhan yang telah lama mereka tinggalkan itu untuk menjenguk dan menyampaikan rasa hormat sekaligus terima kasih. Namun, setelah semuanya sampai di panti yang lokasinya terpencil, ditandai dengan susah sinyal, sedikit demi sedikit kejanggalan bermunculan dan mengancam jiwa masing-masing secara tak terkendali yang kekuatannya bersumber dari ilmu hitam.

Judul film ini sendiri sudah bocoran. Ketika menonton, misterinya kemudian menjadi siapakah ratunya? Sembari mencari-cari sepanjang babak awal hingga pertengahan, film ini terasa sekali sidik jari Joko Anwar-nya. Skrip yang ditulisnya ini sarat humor cerdas, teka-teki yang kadang alasannya secara gamblang diperdebatkan dalam dialog verbal antarkarakternya (kenapa begini-lantas dijawab karena begitu), dan ide konflik berdasar isu feminisme.

Kimo Stamboel saya rasa sebetulnya cukup mengeksekusi baik skrip karya Joko Anwar ini yang hanya mengambil benang merah motif dari film lamanya yang dibintangi oleh Suzzanna. Babak pengantarnya meski lambat, tapi gurih. Jelang misteri meneror pun tersajikan renyah. Saat memasukkan sidik jarinya dalam merangkai adegan berdarah ngilunya pun tepat kadar.

Yang mulai membuat saya sedikit tercabut dari cengkeraman misterinya adalah babak krusial menjelang klimaks dan klimaksnya. Lagi-lagi, uuntuk kesekian kalinya sensasi ini saya dapat dari film dengan skrip kreasinya Joko Anwar. Kali ini bukan buru-buru, melainkan pilihan adegan kritis dalam penyelesaiannya yang terasa kelewat fantastis sekaligus ada sisi menggelikannya.

Film ini memang bisa bercerita, narasi motif konfliknya pun diperhitungkan secara matang untuk menarik diikuti. Visualisasi dan ilustrasi musiknya cukup tergarap baik, minus minor di adegan gelapnya karena pencahayaan pada set gelap tetap kalah dari film arahannya Joko Anwar. Penempatan ilustrasi musik cukup bisa saya apresiasi karena tak berisik dan tepat saat memilih diam.

Menimbang pilihan babak finalnya, film ini adalah film horor untuk penonton dewasa (17+) yang senantiasa menghibur dengan segala kengiluan dan sedikit kekonyolan yang dihidangkan. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara