SOSOK revolusioner, Tan Malaka mangatakan idealisme adalah kewemahan terakhir yang dimilik oleh pemuda. Sedangkan Ben Anderson dalam tulisanya mempercayai bahwa watak khas dari arah revolusi Indonesia pada permulaanya ditentukan oleh pemuda.

Dua tokoh tersebut memberikan kesan bahwa pemuda merupakan jantung dari kemajuan negara Indonesia. Ia adalah subjek yang harus selalu lahir dan terus-menerus dalam melakukan kerja-kerja kemajuan. Seperti dalam catatan sejarah, peristiwa Sumpah Pemuda menjadi salah satu usaha kaum pemuda memerdekan Indonesia dari belenggu imprealisme.

Berbicara sumpah pemuda, tentunya hal tersebut mengingatkan pada memoar kebangkitan perlawanan pemuda. Persitiwa tersebut merupakan suatu komitmen dan kekuatan yang diperkasai oleh kesadaran yang sama; adanya penindasan disebabkan imprealisme. Dengan begitu, sumpah pemuda lahir tidak serupa barang yang tiba-tiba jatuh dari langit. Syahdan, persitiwa tersebut adalah usaha dan perjuangan yang menjadi titik kebangkitan adanya tekad untuk bersatu.

Dalam sejarahnya, kongres Sumpah Pemuda terlaksana selama dua kali. Kongres pertama terjadi pada tanggal 30 April-02 Mei 1926 yang diketuai oleh Mohammad Tabrani. Sedangkan kongres kedua terjadi tanggal 27-28 Oktober 1928 menjadi puncak lahirnya Sumpah Pemuda sebagai tekad dari kaum-kaum progresif yang menyerukan perlawanan. Kesadaran mereka menjadi inti dari lahirnya kecerdasan dan idealisme sebagai senjata baru, untuk melawan tipu daya penjajah yang manjadikan Indonesia penjara bagi rakyatnya sendiri.

Dalam kontek kepemudaan, semangat Sumpah Pemuda tetap menjadi sesuatu yang inheren pada masa kini. Tetapi nila-nila dalam Sumpah Pemuda sepertinya mulai pudar pada sebagian banyak generasi milenial. Generasi tersebut lebih meyibukkan diri dengan kepentingan-kenpetingan individu.

Mereka lebih asyik dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri, dalam artian dunia media sosial yang menjadi alasan dominan hilangnya kepekaan generasi sekarang akan permasalahan sosial. Padahal angka kemiskinan masih saja tinggi, penganguran di mana-mana, pejabat sering korupsi dan negara ini butuh sosok pemuda yang progresif bukan egois pada kehidupanya sendiri.

Di satu sisi, kemajuan teknologi juga merupakan suatu kondisi yang menguntungkan. Hal tersebut mempermudah segala aktivitas seseorang mengetahui dan melakukan sesuatu yang dikehndaki. Tapi di sisi lain kehidupan daring yang berlebihan hanya meyebabkan ketergantungan akan teknologi. Dampak yang paling nyata adalah timbulnya sikap apatis dan individualis dalam memahi lingkungan sosial.

Keadaan demikian akan terus berlangsung selama suatu generasi tidak mempunyai rasa ingin tahu bagaimana sejaraah bangsa mereka terbentuk. Membicarakan sebuah perubahan akan tetapi tidak ada komitmen untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam hal ini perlu kiranya membumikan nila-nila Sumpah Pemuda sebagai spektrum generasi masa kini, sehingga Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi dongeng yang diceritakan dan cukup dikenang.

Salah satu nila-nilai Sumpah Pemuda yang mempunyai signifikasi akan peran pemuda adalah semangat perlawanan dan gerakan progresif. Mereka menjadikan idealisme sebagai prinsip untuk membakar semangat perlawanan terhadap penjajah. Menjadikan gerakan-gerakan mereka tidak hanya bertumpu pada otot, melainkan sebuah pemikiran yang lahir sebagai gagasan untuk mepersiapkan kemerdekaan yang diimpikan. Sebab, dari persitiwa Sumpah Pemuda seseorang pemuda akan tahu bahwa tuntutan untuk menjadi generasi penerus tidak hanya pintar, jauh dari itu sikap kepedulian adalah hal yang pertama.

Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, bisa dikatakan, semangat Sumpah Pemuda adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dan dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri. Sejarah Sumpah Pemuda tidak cukup hanya pada sebuah peringatan, tidak juga dengan hanya mengenang. Tetapi sejarah tersebut adalah alarm sebuah kewajiban seorang pemuda untuk melanjutkan cita-cita semangat perlawanan dan gerekan progresif untuk pemuda yang lebih baik. (ila)

*Penulis adalah mahasisiwa UIN Sunan Kalijaga prodi Hukum Tata Negara. Aktif di Komunitas Kutub, Sewon Bantul, koordinator Youth Movement Institute Yogyakarta dan anggota Permahi (Perhimpuna Mahasiswa Hukum Indonesia) Jogjakarta.