RADAR JOGJA – Prosesi Garebeg Maulud Keraton Jogja untuk memperingati Maulud Nabi 1441 H menyita perhatian masyarakat dan wisatawan. Sejak pukul 09.00, ribuan warga telah memadati Alun-Alun Utara Jogja.

Mereka menantikan arak-arakan gunungan yang dikeluarkan tepat pukul 10.00 untuk diperebutkan masyarakat.

Kepala Bagian Humas Pemprov DIJ Ditya Nanaryo Aji menuturkan, ada tujuh gunungan yang berisi beragam hasil bumi dalam prosesi Garebeg Maulud, Minggu

(10/11). “Gunungan terdiri atas gunungan kakung, gunungan estri, gunungan gepak, gunungan darat, dan gunungan pawuhan,” jelasnya.

Acara Garebeg Maulud juga digelar sebagai wujud rasa syukur Keraton Jogja serta simbol kemaslahatan antara raja dan rakyatnya, atau masyarakat Jogja dengan pemimpinnya. Saat gunungan memasuki Alun-Alun, prajurit Keraton memberikan penghormatan dengan tembakan.

Rombongan bregada pertama mengawal arak-arakan gunungan menuju Masjid Gedhe Kauman. Abdi dalem juga mengiringi gunungan menuju Pura Pakualaman dan Kepatihan.

Setibanya di halaman masjid, gunungan diserahkan kepada penghulu masjid untuk didoakan. Setelahnya, baru masyarakat diperkenankan mengambil isi gunungan yang tersedia.

GKBRAy Adipati Paku Alam X mengawali prosesi Garebeg Mulud di Pura Pakualaman. (DWI AGUS/RADARJOGJA)

Segenggam kacang panjang, cabe keriting, dan buncis berhasil diperoleh Heni Triwinasih, warga Depok, Sleman, setelah memperebutkan isi gunungan. Dia mengungkapkan, hasil bumi itu akan dimasak untuk disantap keluarganya.

Menurutnya, hasil bumi yang berhasil diperolehnya mengandung berkah tersendiri. “Sudah percaya dari hati ada berkah yang tidak bisa kita jelaskan,” tandasnya.

Prosesi Garebeg juga menarik perhatian wisatawan mancanegara, Grace Harper, asal Perth, Australia. Ini menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan prosesi Garebeg Maulud. “Sangat menghibur karena ini juga menjadi pengalaman pertama saya, walaupun cuacanya sangat panas,” ujarnya.

Dia mengatakan, masyarakat pasti sangat gembira bisa mendapat berkah dari rajanya. Baginya, kultur ini sangat autentik dan menjadi ciri khas Jogjakarta. Dia berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Gunungan dari Pura Pakualaman. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Sementara itu, gunungan yang menuju Pakualaman dikawal langsung oleh Bregada Kadipaten Pura Pakualaman, Lombok Abang dan Plangkir. “Satu gunungan kakung pemberian raja Keraton Jogja ini wujud paseduluran dan tradisi yang telah berlangsung sejak lama,” ujar Bupati Sepuh Pura Pakualaman KRT Projo Anggono.

Selain dua bregada khas Pakualaman, gunungan juga dikawal dua ekor gajah. Mamalia berukuran besar ini merupakan koleksi Gembira Loka (GL) Zoo Jogjakarta. Keduanya dipercaya mengawal bregada dan gunungan di barisan terdepan.

Dalam perjalanannya, gunungan ini juga dihantarkan oleh abdi dalem dan abdi dalem kaji Keraton Jogja. Serah terima dilakukan perwakilan abdi dalem kaji Keraton Jogja KRT Wijaya Pamungkas kepada KRT Projo Anggono.

“Gunungan diterima di tratak Bangsal Sewatama. Setelah prosesi serah terima, gunungan didoakan lalu beberapa trah Pakualaman dipimpin GKBRAy Adipati Paku Alam X mengambil gunungan terlebih dahulu. Setelah itu, baru diperebutkan oleh warga ,” ujarnya.

Pengageng Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo menjelaskan ritual dan makna garebeg. Meski tradisi, upacara adat ini sempat terhenti awal era 1990-an. Hal ini karena kondisi perekonomian sempat tidak stabil kala itu. Hingga akhirnya tradisi ini dihidupukan kembali 1994.

Pada awalnya jumlah gunungan lebih banyak dari saat ini. Awalnya ada sekitar 20 gunungan yang diberikan ke setiap ndalem ke-pangeranan. Pemberian ini merupakan sebuah wujud tanggung jawab. Setiap pangeran, lanjutnya, mendapat tugas untuk membina lingkungan.

“Ngalap berkah itu hanya simbol, tapi utamanya adalah tetap berusaha dan berdoa kepada yang kuasa. Kalau dulu gunungan hasil bumi dicacah, dibagikan lalu disebar di sawah dan pertegalan, kalau sekarang sudah berbeda,” kata pria kelahiran 17 Agustus 1950 ini. (c16/dwi/laz)