RADAR JOGJA – Mesin penggerak perhelatan musik kontemporer Ngayogjazz, almarhum Djaduk Ferianto tutup usia Rabu (13/11) lalu. Hal ini tak menyurutkan semangat relawan dan panitia Ngayogjazz untuk terus menggelar monumen peninggalan seniman senior asal Jogjakarta tersebut.

Tim Kreatif Ngayogjazz Bambang Paningrom mengaku, diselimuti perasaan berat untuk tetap mengadakan Ngayogjazz pada Sabtu (16/11) mendatang di Padukuhan Kwagon, Godean, Sleman. Namun, mengingat semangat dan komitmen Djaduk semasa hidupnya, dengan kesepakatan keluarga, Ngayogjazz akan tetap dihelat bertajuk Satu Nusa Satu Jazz-nya dengan tema tambahan Tribute To Djaduk.

Dari pertemuan terakhir dengan Djaduk, selalu menunjukan semangat. Panitia tentu tidak rela untuk menghentikan Ngayogjazz. “Semangatnya akan terus mendorong kami entah sampai kapan,” jelasnya saat konfrensi pers di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Cente, Ngaglik, Sleman, Kamis (14/11).

Selain menampilkan puluhan musisi, Ngayogjazz kali ke-13 ini banyak bekerja sama dengan beragam komunitas . Misalnya komunitas pelayang dan komunitas bambu asal Sleman. Sesuai dengan suasana desanya yang penuh bambu. Elemen artistik yang akan muncul juga banyak memakai elemen bamboo.

Untuk mendukung tema, akan diadakan pula museum Ngayogjazz. Ini merupakan peninggalan Djaduk atas gagasannya. Museum ini muncul atas pemikiran jenaka Djaduk. “Untuk isinya nanti bisa kunjungi sendiri,” terangnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo mengatakan, pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan pada Ngayogjazz. Diharapkan festival ini dapat menjadi magnet daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain itu dia menganggap Ngayogjazz sebagai festival musik yang unik. Sebab, umumnya festival jazz berbayar mahal dan digelar di tempat eksklusif. Sedangkan festival Ngayogjazz tak memungut biaya dan diselenggarakan di dusun-dusun.” Ini menjadi cara mengomunikasikan Jazz ke masyarakat luas,” paparnya.

Ngayogjazz juga menarik minat Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis untuk berkolaborasi melakukan proses pertukaran budaya . Deputi Direktur Eramus Huis mengatakan, Ngayogjazz berbeda dengan event musik lain di Indonesia maupun Eropa.

Selain karena memiliki fungsi edukasi, juga karena kemampuannya dalam menggarakkan beragam komunitas yang terlibat. Ngayogjazz juga non-komersil, diselenggarakan di kampung, sehingga masyarakat akan bisa menerima manfaat dari festival ini. “Berbeda dengan festival musik di Eropa yang sifatnya komersil,” jelasnya.

Pihaknya menggandeng grup musik asal Belanda Arp Frique yang akan membawakan musik dansa khas karibia di Ngayogjazz. Musik garapan mereka unik karena memadukan genrejazz, funk, dan disco. Dikatakan akan membuat orang ingin berdansa. “Merupakan kesempatan besar bisa mengetahui acara ini. Saya berharap artis dari Belanda bisa saling terkoneksi dan terinspirasi dengan seniman di Indonesia,” tuturnya.

Sederet musisi akan meramaikan perhelatan Ngayogjazz. Di antaranya Tompi, Dewa Budjana, Eym Trio (Prancis), Nonaria, dan FSTVLST. Akan digelar pula kesenian daerah seperti Jathilan Kwagon, dalang anak, dan Gamelan Kwangon.( cr16/din)