RADAR JOGJA – Tidak terasa, pada 11 November 2019 kemarin, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, DIY sudah berusia 73 tahun. Untuk memperingati HUT ini, berbagai acara digelar. Seperti pameran UMKM, test IVA VCT, pementasan jathilan, dan tirakatan. Sementara sebagai acara puncak, digelar upacara hadeging di halaman balai desa setempat, Senin (11/11).

Rangkaian cara hadeging dibuka oleh Kepala Desa Pandowoharjo, Catur Sarjumiharta, Minggu (10/11). Sebagai pembuka disajikan tarian Batik “Ayu Arimbi”, dan dilanjutkan Sosio Teatrikal Hadeging Pandowoharjo dari Dusun Mancasan Kleben, serta Senam Flash Mob “Gugur Gunung”. Pada upacara Hadeging Desa Pandowoharjo diikuti jajaran pemerintah desa, jajaran Polsek Sleman, koramil, unsur kelembagaan masyarakat desa, dan tokoh masyarakat.

Kepala Desa Pandowoharjo, Catur Sarjumiharta menuturkan, Hadeging Pandowoharjo tahun ini, mengangkat tema “Mewujudkan Kawasan Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa Pandowoharjo Berbasis Aset dan Potensi Lokal Desa Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. “Tema ini kami ambil dalam rangka sosialisasi kepada warga tentang pembangunan Taman Pandowo yang merupakan kawasan pengembangan pemberdayaan masyarakat Desa Pandowoharjo,” katanya. Menurut Catur panggilan akrabnya rencana pembangunan kawasan tersebut sudah sejak 2017 yang lalu dibuat master plan dengan harapan rencana itu akan menjadi cita-cita besar seluruh masyarakat Pandowoharjo yang akan terus dibangun secara bertahap dan berkelanjutan.

“Desa Pandowoharjo dengan segala keragaman yang ada, telah menjadi incaran investor. Diharapkan, penguatan masyarakat benar-benar mengawal terus pengembangan pemberdayaan dan dimulai dengan pembangunan kolam renang,” paparnya. Pemerintah Desa Pandowoharjo juga mengembangkan program Desa Pintar. Program ini sebagai tanggung jawab pemerintah desa dalam layanan secara transparan kepada masyarakat.

“Program Desa Pintar memiliki 16 fitur,salah satunya layanan berbasis IT (e-KTP). Layanan berbasis e-KTP ini ke depan akan dikembangkan dengan layanan berbasis android,” ungkapnya. Potensi lain, Desa Pandowoharjo mendapat predikat sebagai Desa Budaya dan memiliki enam desa wisata yang semua berbasis pemberdayaan masyarakat. Enam desa wisata tersebut, antara lain Desa Wisata Brayut berbasis pertanian; Desa Wisata Seni Pertunjukan Pajangan; Desa Wisata Edukasi Dukuh, Desa Wisata Kampung Iklim Karangtanjung, Desa Wisata Sentra Batik Plalangan, dan Desa Wisata Kampung Bocah Temon.

Untuk diketahui, Desa Pandowoharjo terdiri dari 22 padukuhan, 102 RT, 45 RW, dengan jumlah penduduk 13,500 orang. Selain itu, masih dilengkapi unsur-unsur lembaga desa yang jumlahnya lebih dari 30, baik swasta, pemerintah, sosial, ekonomi, kepemudaan,maupun keagamaan.“Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat, dunia usaha atau pelaku usaha, dunia pendidikan dan seluruh masyarakat, mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membangun desa, tegasnya.

Berdirinya Desa Pandowoharjo melalui proses panjang, yang daiawali pada 1946 dengan penggalian sejarah melalui tokoh tokoh masyarakat dahulu, antaralain Riyo Sudibyo (Alm), Mulyadi (Mantan Jogoboyo I), Kasiono (Alm, Mantan Dukuh Karang Asem), Suwito Harjo (mantan Dukuh Krandon), Ny Hardjo Perwito/Suharbinah (Istri ke 2 Lurah Pertama Desa Pandowoharjo), Ny Warsilah (Anak Pertama dari istri I Harjo Perwito), NyEmmy Widayati (Cucu Pertama Harjo Perwito, putri Warsilah). “Sejarah membuktikan demikian banyak tokoh tokoh pendahulu terlibat, hakekatnya merekalah pahlawan pahlawan Pandowoharjo yang telah menorehkan sejarah perjalanan panjang Desa Pandowoharjo,” paparnya. Setelah terkumpul bukti-bukti, diselenggarakan musyawarah desa (Musdes) yang dihadiri segenap pelaku sejarah yang masih hidup, tokoh masyarakat, BPD, LPMD, TP PKK, Karang Taruna, RT, serta RW. Dari Musdes diputuskan sejarah terbentuknya Desa Pandowoharjo adalah pada 11 November 1946 dengan condrosengkolo berbunyi “Mangsa Karya Gapura Tunggal”, atau Saat Berkarya Menuju Gerbang Persatuan. “Itu dimaknai bersatunya lima kelurahan menjadi satu Kelurahan Pandowoharjo, yakni, Kalurahan Tlacap, Kalurahan Brayut, Kalurahan Sawahan, Kalurahan Majegan, dan Kalurahan Jabung,”jelasnya. (*/jko)