RADAR JOGJA – Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yang lahir di Jogja, Muhammadiyah diminta bisa bersinergi dengan Pemkot Jogja. Salah satunya dalam bidang ekonomi. Melalui amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti (HS) mendorong agar organisasi Muhammadiyah dapat terus bersinergi dengan pemkot untuk peningkatan kualitas ekonomi. Harapan itu disampaikan HS pada momentum Milad Muhammadiyah ke-107.

HS mengatakan Muhammadiyah sudah cukup kuat dalam peningkatan bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial kemasyarakatannya. Tiga hal ini yang dirasa sudah cukup kuat dalam menghidupi Muhammadiyah. “Dulu kan pendiri muhammadiyah para saudagar semua. Saatnya sekarang kembali pada kekuatan ekonomi yang harus dibangkitkan kembali, selain menjaga yang sudah ada,” kata HS disela acara Pembukaan Muhammadiyah Expo 2019 dan Ground Breaking Suara Muhammadiyah (SM) Tower dalam rangka Peringatan Milad Muhammadiyah ke-107, di Halaman Grha Suara Muhammadiyah, Jl.Ahmad Dahlan, kemarin (17/11).

Menurut HS, dengan banyaknya warga Muhammadiyah di Kota Jogja bisa digerakkan bersama Pemkot Jogja. Dia mengajak pengurus dan warga Muhammadiyah memanfaatkan potensinya yang ada di Kota Jogja. “Mari bersama-sama membangun Kota Jogja,” ajaknya.

Sedang Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, jika gedung-gedung yang dibangun sebagai pusat keunggulan Muhammadiyah menggambarkan kemajuan yang menjadi orientasi gerak organisasi. Pun peresmian Muhammadiyah Expo dan Ground Breaking SM Tower ini melengkapi usaha untuk membangun pusat-pusat kemajuan. Bahwa bangsa ini memiliki modal sosial, budaya dan rohani. “Jadi kita harus mendorong dan mengkreasi potensi besar ini demi kemajuan. SM menjadi contoh amal usaha Muhammadiyah yang terus bertumbuh,” katanya.

Haedar menjelaskan sejak berdirinya sampai usia 107 tahun ini akan terus membangun pusat-pusat keunggulan pendidikan, kesehatan, budaya, sosial, usaha, gerakan literasi, maupun bisnis agar bangsa ini memiliki daya tawar tinggi. Hal ini tentunya juga akan memberikan sumbangan untuk kemajuan DIJ. Maka ke depan Muhammadiyah akan terus berkontirbusi untuk bangsa ini dengan memperkenalkan pemikirian-pemikiran yang moderat berkemajuan. “Moderat dalam arti kita harus mengajarkan agama tapi juga pola pikir entah ideologi, sosial, politik, ekonomi yang memang tengahan,” ujarnya.

Selain tengahan juga harus maju sehingga menjadi bangsa yang toleran, bersatu, damai. Dan itu akan semakin lengkap jika bangsa itu sendiri bisa maju dibidang ekonomi, politik, budaya, sampai pada ilmu pengetahuan dan teknologi serta infrastruktur. “Nah Muhammadiyah sebagai Islam yang menyeimbangkan hal itu. Sehingga akan terus berbuat yang terbaik untuk bangsa,” tutur dosen UMY itu.

Sedangkan Indonesia itu akan kuat ketika seluruh potensi masyarakat diberikan ruang. Adapaun pemerintah bisa eksis ketika memberikan ruang pada swasta maupun organisasi masyarakat maupun lainnya untuk menjadi partner dan penggerak perubahan. Karena hal itu merupakan regulasi negara, regulasi pemerintahan harus adaptif dengan kepentingan-kepentingan kekuatan masyarakat. “Jangan ada kontradiksi lah diantara regulasi negara dengan dinamika yang ada di masyarakat,” pesannya.

Direktur Suara Muhammadiyah Jogja, Deni Asy’Ari menambahkan bahwa SM Tower dibangun sebagai bentuk dan simbol kemandirian ekonomi persyarikatan. Sebuah bangunan yang memiliki fungsi hunian atau penginapan dan ruang pertemuan (Hotel), setinggi tujuh lantai di Jl. KH Ahmad Dahlan. Dan merupakan SM Tower pertama yang nantinya akan dikembangkan di setiap propinsi melalui skema jamaah dan jejaring, sebagai bagian dari ikhtiar SM dalam mengkonsolidasikan potensi ekonomi persyarikatan. (**/cr15)