RADAR JOGJA – Kolaborasi Teater Garasi dan seniman Asia lainnya dalam pementasan ”Peer Gynts: Asylum’s Dreams” menarik ribuan mata penonton di Jepang selama dua minggu. Teater Garasi dan Shizuoka Performing Art Center (SPAC) sukses menggelar world premiere pementasan yang diadakan di gedung pertunjukan utama SPAC di Shizuoka, mulai 5 November hingga 19 November 2019.

Tim komunikasi Teater Garasi Dadi Krismatono mengatakan, pertunjukan ini berhasil menarik kurang lebih 2.000 penonton yang datang dari berbagai kota di Jepang. Baik siswa sekolah menengah maupun kritikus Jepang ternama memuji pertunjukan yang berlangsung selama 2 jam 15 menit ini.

Para seniman dari Jepang, Indonesia, dan Sri Lanka tampil penuh dalam pertunjukan yang mengajak penonton mendalami topik ketakutan dan kecemasan  yang mengambil inspirasi dari naskah Peer Gynt karya Henrik Ibsen, dramawan besar Norwegia.

Sutradara pementasan Yudi Ahmad Tajudin dari Teater Garasi mengatakan, pihaknya senang sekali melihat pentas perdana di Shizuoka. Isu yang kompleks ini, tentang kecemasan dan rasa takut, berhasil diwujudkan ke dalam bentuk pertunjukan yang tak hanya menghibur dan menarik perhatian penonton tapi juga mampu menawarkan refleksi atas tema ini.

”Dalam hal ini, karya ini merepresentasikan masa depan teater. Perjalanan Panjang “Peer Gynts: Asylum’s Dreams” adalah bagian dari proyek besar yang dinamakan Multitude of Peer Gynts (MPG),” jelasnya.

Direktur Artistik SPAC Satoshi Miyagi menyambut baik pertunjukan ini. Dia menyebutnya sebagai karya yang mewujudkan konsep ”Asia Baru”.

”Ada kecenderungan di kalangan teater Asia untuk meneruskan tradisi masa lalu atau mengadopsi teater Barat. “Dalam menghadapi isu dunia, teater Asia harus keluar melampaui Asia, di satu sisi mengadopsi teater Barat dan di sisi lain membuka diri ke dunia luar. Saya melihat Peer Gynts – Asylum’s Dreams terbuka dan dapat diakses oleh khalayak Barat dan di saat yang sama menyentuh realitas yang dihadapi orang Asia,” ungkapnya.

Teater Garasi berharap dapat memanggungkan karya ini di Indonesia pada pertengahan 2020. Karya ini menggali rasa takut dan kecemasan dalam konteks friksi kekuatan politik yang dialami di berbagai sudut Asia kontemporer. (ila)