DUAARRRRRR!!! suara ledakan bom, yang di bawa seseorang ke Polrestabes Medan pada 13 November 2019 meledak. Di iringi dengan kepulan asap tebal. Orang-orang sekitar tempat kejadian kaget dengan peristiwa tersebut.

Kabar berhembus begitu cepat, dalam hitungan detik berita bom bunuh diri di Polrestabes Medan membanjiri jagad dunia maya. Kabar dalam bentuk tulisan, virtual, dan video pun tersebar. Itulah kecanggihan teknologi yang tidak bisa kita bendung keberadaannya.

Sontak kejadian tersebut memunculkan nafsu para netizen bergelora dalam memberikan komentar. Mulai dari berempati, sampai membenci. Tergantung darimana netizen memandang.

Mafhum diketahui, bom bunuh diri sering diidentikkan dengan kelompok radikal, dan terorisme. Ya, meskipun begitu ada pula simbol-simbol tambahan sebagai penguatan bahwa mereka adalah kelompok radikal. Yakni orang  bercelana cingkrang dan pengguna cadar.

Namun tidak dengan pelaku bom bunuh diri yang di Polrestabes Medan ini. Dia menggunakan atribut ojek online. Lantas muncul berbagai anggapan bahwa orang yang dianggap pelaku adalah korban, ada kemungkinan dia mengantar pesanan dan ia tidak tahu bahwa itu bom.

Memang kita boleh berpendapat apapun itu, tapi mari kita tunggu dan hargai proses kinerja penyelidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwewenang. Hingga akhirnya nanti bisa  kita tarik kesimpulan bahwa ia adalah pelaku atau korban.

Selain itu kejadian tersebut seolah menjadi pukulan bagi pemerintahan negara, bahwa kelompok radikal masih berkeliaran bebas di negeri Indonesia ini. Seolah mindset yang dibentuk bahwa kelompok radikal adalah mereka yang memakai celana cingkrang dan bercadar. Yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini menjadi terpatahkan atas kejadian ini. Jadi pikiran kita harus terbuka tidak menyempitkan pandangan bahwa kaum radikal di tandai dengan simbol-simbol sebuah penampilan saja. Meskipun simbol-simbol tersebut seyogyanya masih bisa diperdebatkan.

Memang ketika kita berada di luar kelompok radikal tersebut pasti beranggapan bahwa tidak ada gunanya meledakkan bom dalam diri sendiri. Hanya kerugian yang di dapatkan, yakni hilangnya nyawa dengan cara yang jauh dari kata lazim.

Tapi berbeda dengan orang-orang yang sudah terpapar ideologi radikalisme, seperti ISIS dan kelompok radikal lainnya. Mereka telah meyakini doktrin-doktrin keuntungan yang lebih besar dan di dapat setelah meledakkan bom dalam dirinya. Keyakinan mengaburkan segalanya.

Meskipun sebuah kelompok-kelompok radikal selalu di identikan dengan kelompok agama tertentu. Tapi perlu diketahui, sebenarnya berbagai agama yang ada, hakikatnya mengajari cinta dan kasih antar sesama layaknya mencintai diri sendiri. Jadi apapun alasannya tidak bisa dibenarkan suatu perilaku ditujukan untuk menyakiti. Baik itu menyakiti diri sendiri ataupun menyakiti orang lain. (ila)

*Penulis adalah Mahasiswa S1 Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang.