RADAR JOGJA – Pernah akrab dengan panggilan Andreas Bawal. Itulah Andreas Purwanto. Politikus PDI Perjuangan asal Dusun Sorogenen I, RT 002/RW 001, Purwomartani, Kalasan.

Andreas mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sleman periode 2019-2024 dari daerah pemilihan (dapil) Sleman 3. Meliputi wilayah Kecamatan Ngemplak, Kalasan, dan Prambanan.

Lima tahun lalu, sebelum menjadi dewan, Andreas menggeluti dunia perikanan. Menurutnya, perikanan merupakan sektor pertanian yang cukup menjanjikan secara ekonomi. Tentu saja jika digarap secara fokus dan serius.

Terlebih kebutuhan ikan konsumsi di wilayah Sleman, bahkan DIJ, sangat tinggi. Di DIJ kebutuhan ikan air tawar per tahun rata-rata mencapai 150 ribu ton. Namun sejauh ini tingkat produksinya tak lebih dari 60 persen. Sisanya masih harus didatangkan dari luar daerah. “Ini sebenarnya peluang emas,” ujar Andreas.

Melihat kondisi tersebut, di periode kedua sebagai anggota legislatif Sleman Andreas ingin membangkitkan gairah petani ikan. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di wilayah Sleman.

Aneka jenis ikan air tawar pernah dibudidayakan oleh pria kelahiran 12 Juli 1973 itu. Kini dia menekuni budi daya bawal. Fokusnya pembesaran ikan. “Hasilnya lumayan. Asal dikelola secara baik dan benar. Saya sudah membuktikannya,”  ujar Andreas.

Hanya, saat ini masih banyak petani ikan belum melakukan budi daya dengan benar. Hasil panen pun tak maksimal. Bawal, misalnya. Ikan ini akan tumbuh bagus jika dipelihara di air dalam dengan aliran sedang dan deras. Atau aliran air yang deras saja.

Sedangkan gurami dan lele akan berkembang dengan baik justru di kolam berair tenang. “Ini jangan sampai terbolak-balik,” ingat alumnus Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, itu.

Sebagai wakil rakyat Andreas siap kembali turun ke kolam untuk memberi pelatihan kepada para petani ikan. Dia juga siap menggandeng akademisi. Ahli perikanan. Untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Guna meningkatkan produksi ikan. Demi meraih sukses bersama. “Supaya pendapatan petani ikan lebih baik, sehingga lebih sejahtera,” tegasnya.

Untuk meraih sukses, kata Andreas, petani ikan harus fokus salah satu bidang saja. Pilih pembibitan, pembesaran, atau perdagangannya. Jika dipaksakan ketiga-tiganya sekaligus, hasilnya justru tak akan maksimal.

Andreas sendiri pilih pembesaran ikan bawal. Khusus untuk berat di atas 2 kilogram per ikan. Kini dia mengelola satu kolam seluas kurang lebih satu hektare. Dengan kedalaman tiga meter.

Selain kondisi air, pakan menjadi faktor penting dalam budi daya ikan. Terutama pakan berprotein. Petani harus bisa menghitung komposisinya, dikaitkan dengan potensi pertumbuhan berat (daging) ikan. Istilahnya food conversion ratio (FCR). “Yang penting itu kandungan protein dan karbohidratnya,” jelas Andreas.

Untuk menghemat  biaya produksi, pakan ikan bisa dibuat sendiri. Dengan bahan bekatul, jagung, kedelai, dan kepala ikan.

Selain budi daya ikan, Andreas juga berencana mengoptimalkan peran petani untuk pengolahan hasil produksi pasca panen. Ikan tak sekadar dijual hidup secara langsung ke pedagang. Tapi bisa diolah menjadi bahan makanan lain. Misalnya rempeyek, nugget, crispy, atau abon ikan. Dengan begitu, ikan lebih bernilai ekonomi. (*/yog/laz)