RADAR JOGJA РKemudahan, dalam aduan dan pelaporan kedaruratan, melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS), diakui  tim Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas (PIKKC) Institut Teknologi Bandung (ITB). Juga layanan umum serta  lainnya, yang sudah terintegrasi dalam JSS.

Hasilnya dalam Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) 2019, Pemkot Jogja memperoleh rating kota menuju cerdas (Smart City) untuk kategori kota sedang. Tak hanya itu, Pemkot Jogja juga masuk dalam kategori smart ekonomi, pengembangan dan pengelolaan kota, serta kesiapan integrasi.

“Kota Jogja masuk kategori kota sedang, dengan jumlah penduduk 200 ribu hingga satu juta jiwa,” jelas Kepala Bidang Teknologi dan Informatika Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Jogja Suciati Sah Jumat (22/11).

RKCI adalah kegiatan riset pemetaan dan rating kota cerdas Indonesia yang ke-3 kalinya dilakukan oleh ITB. Tujuannya untuk membantu kota-kota di Indonesia menjadi kota yang lebih baik melalui pendekatan kota cerdas.

Penilaian RKCI dilihat dari smart people, smart government,serta smart infrastructure technology and environment. Serta pelayanan dalam bentuk smart environment, smart society dan smart economy. “RKCI ini untuk melihat perkembangan dan evaluasi serta inisiatif smart city, menuju kota cerdas,” tuturnya.

Kepala Diskominfosan Kota Jogja Tri Hastono mengatakan, masih ada tantangan Kota Jogja mencapai lima kategori RKCI lainnya. Beberapa evaluasi yang dilakukan, seperti terus mengintegrasikan layanan. “Dalam road map RPJMD Kota Jogja sudah disebutkan menuju smart city,” jelasnya.

Suciati menambahkan, Kota Jogja dinilai sudah berhasil melakukan integrasi melalui aplikasi JSS. Dia mencontohkan layanan kedaruratan dalam JSS, yang sudah mencakup layanan ambulans, pemadam kebakaran hingga penyelamatan jiwa. Sudah mencakup lintas organisasi perangkat daerah (OPD). “Kami juga sudah punya SOP, maksimal dua jam direspons,” tuturnya.

Tak hanya melalui aplikasi JSS, inovasi pemkot lainnya, semisal program Gandeng Gendong hingga lorong sayur juga menjadi salah satu keunggulan dalam smart economy.

Untuk mengentaskan kemiskinan dan pemberdayaan warga. Atau program mundur, munggah, madep kali untuk penataan kawasan sungai. “Smart integrasi karena juga semua pelayanan berdasarkan nomor induk kependudukan,” ungkapnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyebut, penerapan smart city di Kota Jogja tak melulu teknologi. Itu dibuktikan dengan hanya membuat aplikasi JSS untuk menampung semua fasilitas layanan Pemkot Jogja via online.

“Jika daerah lainnya banyak aplikasi, kami cenderung terus memperkuat integrasi layanan dalam JSS,” tuturnya.

HS juga mengingatkan, smart city yang ada di Jogja, sesuai filosofinya harus membumi. Artinya, masyarakat sebagai pengguna harus familiar dan mudah dalam mengoperasikan.

Dia menyebut, prestasi seperti masuk dalam rating kota cerdas bukan sebagai tujuan. “Tapi sebagai sarana mengukur secara objektif ketercapaian tahapan dan progres untuk menuju kota cerdas,” ujarnya. (*/pra)