RASA-RASANYA dulu cuplikan film ini memenangkan hati saya. Ia berhasil membuat saya haru biru sekalipun hanya menonton cuplikan resminya. Saya pun tentu mengantisipasi segala sesenggukan ketika menontonnya.

Berdasar satu kebohongan yang nyata. Itulah prolog film ini. Ceritanya tentang sekeluarga yang kompakan menyembunyikan diagnosis kanker stadium lanjut dari seorang nenek, ibu, buyut mereka yang ironisnya hidup berjauhan dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

Si nenek tetap tinggal di Tiongkok, anak-anaknya ada yang tinggal di AS dan ada pula yang tinggal di Jepang. Demi niat untuk berpamitan secara sepihak, tentu bukan dari sisi si nenek karena dia nggak tahu kondisi aktual kesehatan dirinya.

Semua anggota keluarga berkumpul ke Tiongkok dengan dalih perayaan pernikahan salah satu cucunya, yang tentu saja dipaksakan pelaksanaannya.

Momen perkenalan film ini cukup terasa hangat di hati karena dengan melihat komunikasi mesra via telepon lintas benua antara nenek yang tinggal di kampung halaman dengan cucunya di AS saja dah membuat teperdaya.

Dialog mereka jujur dan intim sekali, saya merasa ruang spasial telah gagal membentengi kedekatan emosional keduanya.

Ketika babak sampai di Tiongkok saat keluarga berkumpul, sensasi emosional film ini mulai terasa sedikit problematis karena kita semua tahu premisnya bahwa semua sedang bersedih dan membendung perasaan masing-masing untuk tetap, minimal, tak kelihatan mewek.

Hanya saja justru aspek ini yang membuat film terasa sedikit menjemukan karena selama hampir separo bagiannya berkutat tentang menahan perasaan.

Sisanya, kita bisa menikmati suplemen tentang diskusi eksistensialisme, relativisme budaya (Timur vs Barat) dan soal berdamai denan masa lalu.

Sayangnya, yang saya rasakan meski suplemen ini cukup menyita hati dan pikiranku namun tak cukup berbekas karena salah saya sendiri terlalu mengantisipasi ledakan tangis yang saya rasa tak kunjung menemukan momennya.

Walau begitu, film ini tetap memeluk hangat. Kejemuannya bukan karena skrip yang malas, melainkan karena dia mencoba untuk menahan diri supaya tak jatuh pada jebakan dramatisasi picisan.

Interaksi dan emosi yang diudar dalam film ini cukup mentah, dalam artian positif. Satu film tentang menahan emosi yang membuat emosi saya pun ikut tertahan. Terlepas ketika melihat cuplikan akhir setelah filmnya ditutup. Membuatku makin bertanya-tanya akan misteri tentang sakit dan obatnya. Bertanya-tanya yang menyabarkan. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.