Menjadi guru taman kanak-kanak (TK) memerlukan penguasaan keterampilan tingkat tinggi mendidik siswa. Butuh energi besar. Pengelolaan kelas penuh waktu. Tak boleh lelah. Dan, perhatian yang selalu power full.

Lengah sedikit. Maka, situasi belajar mengajar menjadi tidak terkendali. Anak usia dini bisa lari ke mana-mana.

Kalau situasi kelas sudah tak terkendali. Anak usia dini melakukan aktivitas tak sesuai dengan target pembelajaran. Namanya masih anak usia dini. Butuh pemakluman.

Guru TK tak boleh memberi ancaman. Tekanan berlebihan. Apalagi, menghukum. Atau, memarahi. Jangan. Guru TK tetap dituntut bertindak arif. Guru TK harus pandai-pandai merebut perhatian anak usia dini agar on the track berdasarkan tema.

Itulah keterampilan tingkat tinggi yang harus dimiliki guru TK. Dengan berbagai metode pembelajaran menarik. Menggunakan kreativitas. Membikin media pembelajaran yang bisa membuat anak usia dini betah belajar. Media pembelajaran tersebut menjadi kunci memotivasi belajar anak usia dini agar fokus dengan materi yang diberikan oleh guru TK.

Setidaknya, itu resume yang saya catat ketika menjadi penguji praktik mengajar guru-guru TK saat mengikuti program profesi pendidik guru bidang pendidikan anak usia dini. Telah mengalami berkali-kalai menjadi penguji praktik mengajar guru TK selalu memberi kesimpulan sama.

Guru TK hebat. Perlu penguasaan teknik mengajar yang luar biasa. Soft skill dan hard skill berpadu. Agar proses belajar mengajar di kelas bisa sesuai dengan tema yang sudah direncanakan sebelumnya.

Sayangnya, keterampilan tingkat tinggi yang dituntut untuk dikuasi guru TK. Tak sebanding dengan penghargaan yang diterima oleh guru-guru TK. Sebagian dari mereka ada yang memperoleh gaji ratusan ribu rupiah. Gaji yang tak seberapa ini. Belum tentu diterima setiap bulan. Bagi yayasan yang belum mapan. Kadang gaji diterima sampai berbulan-bulan. Menunggu uang SPP dari para wali siswa.

Meski penghasilan kecil. Guru TK tak menuntut lebih. Masih mengerti kondisi ekonomi orang tua siswa. Guru TK di daerah-daerah kurang beruntung secara ekonomi. Tak tega secara tegas menarik uang spp sesuai waktu yang ditentukan. Guru TK masih bisa memahami keadaan keuangan orang tua siswa. Meski sebenarnya ada hak yang harus diterima setiap bulan. Namun karena keadaan. Mereka rela menunda penerimaan gaji.

Sebenarnya masih ada celah meningkatkan kesejahteraan guru TK, yang tidak hanya mengandalkan dari kemampuan keuangan yayasan. Celah ini diperoleh dari mengikuti program sertifikasi guru TK. Tetapi, untuk mendapatkan sertifikat sebagai wujud legalisasi profesionalisme guru tak gampang. Butuh perjuangan tersendiri.

Pengalaman menjadi instruktur program profesi pendidikan memperoleh cerita yang mengharukan dari guru TK. Ketika masih dalam bentuk Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, ada berbagai peristiwa yang membuat hati prihatin. Saat memberikan materi. Tiba-tiba ada guru, yang menurut hitungan hari tak terlalu lama akan pensiun, pamit ingin berobat ke rumah sakit.

Guru tersebut memberikan informasi harus ke rumah sakit. Sudah terjadwal melakukan cuci darah. Secara rutin melakukan cuci darah karena ginjal tidak berfungsi dengan baik. Meski menderita sakit dan mengharuskan secara rutin melakukan cuci darah. Ibu guru tak patah semangat. Tetap menjadi pejuang tangguh untuk mendapatkan sertifikat pendidik.

Bagi ibu guru TK itu merupakan suatu kebanggaan bila berhasil mendapat sertifikat pendidik. Sudah bertahun-tahun. Bahkan, sudah mendekati pensiun belum memperoleh pengakuan sebagai guru profesional. Setidaknya sebelum pensiun benar-benar hadir. Mimpinya menjadi memperoleh legalitas sertifikat pendidik bisa terwujud.

Menjadi suatu kebanggaan saat pensiun tiba. Sudah layak disebut sebagai guru profesional. Pertimbangan ini yang menjadikan guru TK tersebut tetap mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru. Meski fisiknya menanggung sakit gara-gara gagal ginjal yang mengharuskan dirinya secara rutin harus melakukan cuci darah.

Bukan hanya guru yang gagal ginjal berjuang mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru. Ada kejadiaan beberapa kali. Saat dipanggil mengikuti workshop sudah mendekati kelahiran anak. Perhitungan hari kelahiran terjadi saat mengikuti workshop program profesi pendidik.

Secara prediksi sudah mengerti hari kelahiran anaknya yang masih dalam kandungan. Guru TK yang sedang menanti kelahiran itu tak surut. Tekat sudah bulat. Tetap mengikuti sertifikasi pendidik.

Benar baru berproses mengikuti workshop. Hari lahir anaknya tiba. Tidak menggunakan hitungan berhari-hari. Setelah melahirkan. Langsung melebur kembali bersama guru-guru lain mengikuti workshop.

Perjuangannya memang hebat. Dirinya harus mengurus bayi. Disamping mengurus bayi masih bergelut dengan workshop yang menuntut konsekuensi mengerjakan tugas. Tugas berat. Tapi guru TK itu tak mengeluh. Tetap istiqomah. Berusaha melanjutkan workshop sampai selesai.

Selesai workshop perjuangan belum usai. Guru TK yang menjalani workshop dengan penuh tantangan masih harus menghadapi tantangan lagi. Yaitu uji pengetahuan yang menjadi penentu kelulusan peserta program sertifikasi guru. Seandainya lulus berhak memperoleh sertifikat. Bila tidak maka harus melakukan ujian ulang. Ujian berkali-kali sesuai dengan ketentuan tak lulus. Kesempatan untuk mendapat sertifikasi pendidik menjadi nihil.

Perjuangan guru TK memang layak diapresiasi. Tugasnya mendidik anak bangsa terasa berat. Belum lagi. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai guru profesional melalui perjalanan yang berat. Meski begitu. Guru TK tetap berjuang sepenuh hati mencerdaskan anak bangsa. Salut…!!!!!