RADAR JOGJA – Santri Qur’an Training Center (QTC) Al-Mady banyak menorehkan prestasi. Itu karena di QTC Al-Mady memberikan pembelajaran baca Alquran hingga mempraktekan salat.

Muhammad Hakim Fadli Himatullah salah satunya. Siswa kelas 4 SD itu sudah beberapa kali meraih prestasi menjadi juara tingkat kabupaten Sleman hingga DIJ. Untuk lomba tartil, tilawah hingga salat.

Saat Khotaman Imtihan Akbar QTC Al-Mady 2019, dia pun meraih santri terbaik untuk Kaifatushalli atau mengenal dan mengajarkan gerakan salat dari berbagai sumber mahdzab. “Dulu bacaannya belum fasih, terus salatnya juga belum sesuai riwayat Nabi,” kata Hakim di sela Khotaman Imtihan Akbar QTC Al Mady di Auditorium UPN “Veteran” Jogja, Minggu (24/11).

Hakim mengaku sudah dua tahun belajar di QTC Al-Mady. Dia diajari mulai dari membaca Alquran sesuai tartil dan tajwid, mengartikan hingga tuntunan salat yang benar. Selama empat kali dalam sepekan dia mengaji di QTC Al-Mady, yang berada di kawasan Kalasan, Sleman itu. “Enak banyak teman, ustadznya juga baik,” ungkapnya.

Menurut Ketua Panitia Khotaman Imtihan Akbar QTC Al Mady, Farida Akbar, tahun ini merupakan kali keempat Imtihan Akbar. Pada 2019 ini, ada 101 santri QTC Al Mady yang mengkhatamkan Kaifatushalli, Tartil, Turjuman Alquran, dan Tahfidz.

Kesempatan Khotaman Imtihan Akbar QTC Al Mady juga dipakai untuk memperlihatkan metode QTC Al Mady yang mempunyai program khusus yang tidak diajarkan di TPA lain. Dengan metode Ummi. “Kami juga mengundang sekitar 5.000 orang untuk tahu metode Ummi ini,” jelasnya.

Farida menambahkan, QTC Al Mady menjadi tempat pembelajaran Alquran dari dasar. Mulai dari tartil, setelah itu turjuman ke tajwid dan sesudahnya tahfidz. Menurut dia, yang baru juga ada Kaifatushalli. Santri diajarkan muali dari membaca yang benar dan tepat. Kemudian mengartikan per kata dan per ayat. Hingga tuntunan salat yang benar sesuai riwayat. “Jadi hafalan Alquran terus dipakai, termasuk saat salat dengan baik dan benar,” tuturnya.

Khusus Kaifatushalli, Farida mengklaim baru ada pertama di DIJ, bahkan di Indonesia. Baru diajarkan di QTC Al Mady yang bekerja sama dengan Ummi Foundation. Program kaifatushalli penting untuk diketahui.

Hal itu agar umat Islam di Indonesia tidak salah paham dalam menyikapi dan mengomentari perbedaan gerakan salat.

Farida menambahkan, di QTC Al Mady menerapkan metode semi pondok. Para santri belajar mengaji empat kalid alam sepekan. Seusai pulang sekolah. Mulai dari pukul 16.00 hingga Magrib. Apa yang membedakan dengan TPA lainnya? “Ketertiban yang kami utamakan, karena kami ingin tak sekadar meluangkan waktu belajar Alquran tapi memahami dengan tepat dan benar,” jelasnya. (pra)