RADAR JOGJA – Bagi wisatawan, berkunjung ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, atau Candi Prambanan di Klaten, Jawa Tengah, adalah berwisata ke Jogja. Itulah salah satu bukti dari kinerja Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti yang sukses menjaga kotanya sebagai center dari konektivitas di DIJ dan sekitarnya.

Luas Kota Jogja hanya 32,5 kilometer persegi. Jika dibandingkan dengan luas DIJ, hanya 1/69 kalinya. Bahkan, dengan kabupaten lain di DIJ, Kota Jogja hanya seluas satu kecamatan. Tentu luasan yang sangat kecil.

Itu pula yang tergambar di APBD Kota Jogja. Meski kerap disebut sebagai Kota Pariwisata, retribusi tempat wisata di Kota Jogja hampir tak ada. Sebab, memang Kota Jogja tak memiliki daerah khusus wisata selain Malioboro yang gratis-tis kecuali retribusi parkir.

Tak memiliki bentang alam yang menarik bagi wisatawan maupun tambang, Kota Jogja saat ini malah berkembang terdepan. Wisatawan yang berkunjung ke Borobudur, Prambanan, maupun eksotisnya pantai di Gunungkidul dan Bantul, tetap mampir di Kota Jogja. Itu terlihat dari tingkat hunian kamar hotel tiap akhir pekan. Selalu penuh, sampai sulit hanya menginap di Kota Jogja jika tak memesan jauh-jauh hari. Wisatawan harus siap kecele.

Ketertarikan wisatawan untuk menikmati Kota Jogja memang tak terlepas berbagai aspek. Mulai dari magnet kenyamanan Kota Jogja, kuliner, sampai satu hal pokok yang sering dilupakan: konektivitas transportasi yang mudah dari maupun ke Kota Jogja.

“Meski bandara internasional berada di Kulonprogo, tempat tujuan wisatawan di Jawa Tengah, semuanya dalam kacamata Kota Jogja. Sesuai pesan dari Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono X,” kata Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti usai menerima penghargaan People Of The Year 2019 dari Metro TV di Jakarta Minggu (24/11).

Penghargaan People Of The Year 2019 ini terbagi dalam beberapa kategori. Salah satunya Government Of The Year yang diberikan kepada Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, Wali Kota Semarang Hendi Priharnto, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin.

Tim penilai terdiri dari tujuh tokoh. Yakni, Don Bosco Selamun (news director and VP news and media Metro TV), Prof Rhenald Kasali (pendiri Rumah Perubahan), Prof Panut Mulyono (rektor Universitas Gadjah Mada Jogja), Dr Aviliani (komisaris Indef), Riant Nugroho (direktur Institute Policy Reform), Rustika Herlambang (direktur Indonesia Indikator), dan Sirojuddin Abbas (director research SMRC).

Tim penilai menilai bahwa Wali Kota Jogja mampu menyesuaikan kebijakan. Khususnya, dalam mengantisipasi perkembangan DIJ sebagai hubungan international dengan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) dimana Pemkot Jogja berperan aktif dalam mengembangkan kebijakan bagaimana mempertahankan Kota Jogja sebagai center dari konektivitas antardaerah di sekitar DIJ. (*)