Istana Kepresidenan Jogjakarta menyimpan keindahan tersendiri. Kepala Istana Kepresidenan Jogjakarta Saipullah memberi kesempatan warga untuk berkunjung ke gedung bersejarah ini.

DWI AGUS, Jogja, Radar Jogja

Istana Kepresidenan Jogjakarta masih ”asing” bagi warga Kota Gudeg. Bagi masyarakat Jogjakarta, kompleks gedung yang berada di kawasan Titik Nol Kilometer Kota Jogja tersebut lebih dikenal dengan sebutan Gedung Agung.

Bangunan ini memiliki penampilan yang sangat mencolok. Struktur khas Eropa menaungi hampir seluruh kompleks istana.

Istana ini sejatinya terbuka untuk umum. Bahkan, untuk menikmati keindahan koleksi dan arsitektur bangunan, pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.

”Iya benar. Belum semua warga tahu kalau Istana Kepresidenan Jogjakarta itu terbuka untuk umum. Kadang ada warga yang foto-foto dari pintu luar sisi timur. Padahal, kalau mau masuk ke kompleks istana itu boleh, bahkan gratis,” jelas Kepala Istana Kepresidenan Jogjakarta Saipullah.

Terbukanya pintu istana sejatinya sudah berlangsung sejak era presiden beberapa periode. Namun, program ini tidak terlalu familiar bagi warga Jogjakarta. Terbukti, angka kunjungan ke Gedung Agung setiap tahunnya terbilang minim.

Pria kelahiran Lampung 3 Agustus 1962 ini menceritakan awal mula terbukanya pintu istana untuk umum. Sebenarnya, program ini telah berlangsung sejak era presiden pertama Republik Indonesia yakni Soekarno. Hanya saja, Saipullah baru mengalami sejak era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Kala itu, beberapa Istana Kepresidenan terbuka untuk umum setiap Jumat. Bapak Pembangunan Bangsa, julukan untuk Presiden Soejartno, mengizinkan warga masuk ke kompleks istana.

Kebijakan ini berlanjut pada era Presiden Megawati. Namun, berbeda hari. Putri sang proklamator ini membuka istana kepresidenan untuk umum setiap Selasa.

”Lalu di era kepemimpinan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) muncul istilah Istura. Merupakan akronim dari Istana Untuk Rakyat. Kalau di zaman beliau, istana terbuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu,” kata pria yang mengabdi di kompleks Istana Kepresidenan sejak 1983 ini.

Kini di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, program ini berkembang pesat. Istana terbuka untuk umum setiap hari. Tentunya, jika tak ada kunjungan kenegaraan, baik dari pemimpin Indonesia maupun negara lain.

Saipullah memiliki pemikiran apik tentang Istura. Tak ingin berpangku tangan, dia menggandeng Jogja Gencar. Tujuannya untuk menarik kunjungan masyarakat ke istana.

AYO BERKUNJUNG: Pengunjung melihat koleksi beragam karya seni rupa di Gedung Senisono, Istana Kepresidenan Jogjakarta. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Selang tahun berjalan, kerja sama itu mulai menampakan hasil positif. Setidaknya, kini istana kepresidenan tidak terkesan terlarang untuk dikunjungi di mata masyarakat.

”Anehnya, yang berkunjung justru dari luar Jogjakarta dulu. Tetangga kanan-kiri istana justru belum, masih jarang lho. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua,” ujarnya.

Menjabat sebagai kepala Istana Kepresidenan Jogjakarta semenjak 2012, Saipullah terus berbenah. Diawali dengan menghias dan menata kompleks istana. Seluruh koleksi ditata ulang sesuai konsep yang ada.

Tercatat ada sekitar enam ratus lukisan yang tersimpan di kompleks istana ini. Beberapa di antaranya merupakan karya maestro-maestro lukis di Indonesia. Sebut saja Raden Saleh, Sudjojono, hingga Affandi.

Koleksi utama tersimpan di gedung sisi timur. Bangunan yang dahulu terkenal dengan nama Senisono ini menyimpan ribuan koleksi seni. Tak hanya lukisan, ada patung hingga perabot rumah tangga klasik. Koleksi tak terbatas karya klasik, ada pula karya-karya baru dari seniman muda.

Selesai koleksi istana, Saipullah mulai melirik konsep kunjungan istana. Pengunjung tak hanya tak dipungut biaya masuk. Dua bus berukuran sedang siap dioperasikan untuk menjemput warga dari lokasi asalnya menuju istana.

”Pokoknya, dua bus ini siap antar jemput selama areanya di Jogjakarta. Semata-mata ingin agar masyarakat tahu di dalam istana itu seperti apa. Jadi, bisa ikut bangga dan merasa memiliki istana kepresiden,” harapnya.

Istana juga telah menyiapkan guide yang menmberikan penjelasan ke pengunjung selama menjalani tur istana. Guide akan menjelaskan secara detail sejarah istana dan koleksinya.

Seluruhnya akan dijelaskan secara detail per ruangan. Apalagi, koleksi-koleksi ini merupakan klangenan dari masing-masing presiden Indonesia.

”Silakan kalau mau masuk. Bisa langsung datang atau mendaftar dulu kalau rombongan. Kalau tidak ada tamu kenegaraan bebas berkunjung kapan saja. Tapi, kalau ada jadwal, ya kami agendakan ulang,” katanya.

Kiprah Saipullah di lingkungan istana kepresidenan terbilang lama. Dia awalnya bertugas di Istana Kepresidenan Jakarta pada medio 1983. Dia mengawali karir sebagai staf keuangan. Karirnya menanjak hingga menjabat sebagai kepala keuangan hingga 2012.

Prestasi ini mengantarkan kepindahannya ke Jogjakarta. Lelaki yang memiliki dua anak perempuan kembar ini dipercaya sebagai kepala istana. Saipullah segera melakukan beberapa gebrakan.

”Penataan itu memakan waktu dua sampai tiga tahun. Awal pindah sini, istana masih terlihat kumuh, baik kompleks dalam maupun di sisi luarnya. Bersama tim, saya benahi semua. Mulai dari taman, koleksi, hingga layak dipamerkan,” ujarnya.

Ditangannya pula, Gedung Senisono memiliki fungsi optimal. Tak hanya menampung koleksi karya seni, gedung ini juga menjadi ruang rapat kabinet kepresidenan. Penataan artistik terlihat di sisi dalam ruangan. Koleksi gamelan klasik menghiasi panggung ruap rapat tersebut.

Ada beragam pengalaman yang dimiliki Saipullah selama menjabat kepala istana. Salah satunya, dia harus merelakan waktunya setiap kalu ada kunjungan kenegaraan. Kapan pun kunjungan tersebut.

Terlebih, jika keluarga presiden maupun wakil Presiden perkunjung ke Jogjakarta. Termasuk. dia rela tak berkumpul dengan keluarga saat hari penting.

”Homebase saya sebenarnya di Jakarta, karena istri saya di sana. Saya di sini (Jogjakarta) bersama salah satu anak saya karena kuliah di UGM. Kalau lebaran (Idul Fitri) biasanya di Salatiga atau Lampung. Tapi, kalau ada agenda resmi, ya harus rela absen untuk menjalani tanggung jawab,” katanya. (amd)