RADAR JOGJA – Tingkat kepedulian masyarakat terhadap kesehatan semakin baik. Itu tecermin dari angka kunjungan ke pusat kesehatan masyarakat (puskemas) sebagai fasilitas kesehatan (faskes) pertama relatif tinggi.

Namun, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Purworejo R. Abdullah menilai ada permasalahan serius yang dihadapi puskemas-puskemas yang ada di pinggiran Purworejo. Dia menilai Pemkab Purworejo perlu lebih konsentrasi pada penanganan puskemas pinggiran sehingga layanan kesehatan di kawasan sekitarnya bisa maksimal.

“Melihat kondisi puskesmas yang ada, maka akan lebih urgen memperbaiki (puskemas) daripada mengadakan (rumah sakit) tipe C,” jelas Abdullah dalam kegiatan pengawasan dalam daerah yang dilakukan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purworejo di Puskemas Banyuasin Loano dan Puskemas Bener, Rabu (4/12).

Tim dewan dibagi dua kelompok. Kelompok pertama menyasar wilayah Kecamatan Grabag. Sedangkan kelompok kedua di bagian utara Purworejo.

Diungkapkan, beban pelayanan kesehatan masyarakat yang diberikan Puskemas Bener sangat besar. Keberadaan proyek besar Bendungan Bener akan memberikan pengaruh besar terhadap kualitas layanan kesehatan yang diberikan.

“Kami melihat jika di Bener itu akan semakin banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan,” tambahnya.

Sedangkan terkait Puskemas Loano, dia mendesak dilakukan peningkatan bangunan. Terlebih, lokasi puskesmas itu berada paling dekat dengan jalur Badan Otorita Borobudur (BOB). Hal tersebut bakal berdampak langsung bagi layanan kesehatan bagi masyarakat sekitar ataupun karyawan BOB.

“Menilik dari kepemilikan lahan, alangkah lebih baik jika puskemas itu dibangun di atas tanah milik sendiri. Lokasinya juga bisa dipindah ke tempat yang lebih tengah. Karena di Banyuasin ini sudah agak ke pinggir,” tambah Abdullah.

Heru Kusumo, anggota Komisi IV DPRD Purworejo, menyatakan, secara keseluruhan puskemas-puskemas di Purworejo harus ditingkatkan. Dia memberikan contoh bangunan dan fasilitas puskemas di Jogjakarta yang sudah seragam dan baik.

“Setidaknya harus seragam dan fasilitas yang ada itu hampir sama. Jadi, layanan (kesehatan) yang diberikan akan maksimal,” katanya.

Peningkatan angka kunjungan warga ke puskesmas terkadi di kawasan perkotaan dan perdesaan. Puskesmas di pedesaan seperti Puskemas Banyuasin Loano dan Puskemas Bener, kunjungan lebih banyak dipengaruhi hari pasaran.

Angka kunjungan akan melejit pada hari-hari tertentu. Namun, angka kunjungan relatif tidak tinggi pada hari biasa di luar hari pasaran.

Namun, ada beberapa kendala yang terjadi di puskesmas. Puskemas Bener yang memiliki tingkat kepesertaan tinggi, misalnya, belum memiliki layanan rawat inap. Ini mengingat keterbatasan lahan puskesmas.

“Kita butuh pengembangan tapi terbatas tempatnya. Kalaupun membangun, paling ke atas. Tapi, kalau itu dilakukan, juga bermasalah karena tidak semua umur bisa memanfaatkan bangunan bertingkat,” kata Kepala Puskemas Bener dr Nunik Sulistyaningsih.

Puskemas Bener, menurutnya, amat strategis. Apalagi, di kecamatan tersebut ada proses pembanguan Bendungan Bener yang melibatkan banyak pekerja. Pelaksana pembangunan bendungan tersebut sudah melakukan komunikasi terkait layanan kesehatan untuk para pekerja.

“Dengan keterbasan yang ada, kami hanya bisa memberikan rawat jalan saja. Kalau sampai rawat inap, ya harus dirujuk ke rumah sakit,” tambah Nunik.

Kondisi berbeda dialami Puskemas Banyuasin. Puskesmas ini memiliki kendala seperti belum peningkatan bangunan dan kesejahteraan perawat masih minim.

Kepala Puskemas Banyuurip dr Andang Antono Putro mengatakan, bangunan puskemas tersebut bukan hak milik Pemkab Purworejo. Bangunan merupakan milik Pemerintah Desa Banyuasin. Jika dibangun, dibutuhkan proses tukar guling dan sejenisnya.

“Kepesertaan BPJS di sekitar puskemas ini masih rendah dan mengimbas kepada kesejahteraan perawat,” kata dr Andang. (udi/amd)