RADAR JOGJA – Walau hujan sudah beberapa kali mengguyur Bumi Projo Tamansari, beberapa wilayah Bantul masih dilanda kekeringan. Masih mengandalkan adanya droping air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mangatakan puncak musim kemarau Desember 2019. Intensitas hujan masih jarang.

Meskipun beberapa kali hujan sudah turun di Bantul, namun bencana kekeringan masih parah. Hal tersebut disebabkan hujan yang intensintasnya masih jarang membuat pori-pori tanah terbuka. Membuat air masuk ke dalam tanah.

“Akhir-akhir ini memang puncak kering-keringnya sumber mata air. Karena hujan baru turun sekali, membuat pori-pori air terbuka, sehingga air sumur malah semakin surut dan kering,” kata Daryanto (4/12).

Kondisi tersebut membuat BPBD Bantul masih melakukan droping air bersih. BPBD Bantul telah menyalurkan 1.500 tangki air bersih ke delapan kecamatan terdampak kekeringan di Bantul. Meliputi kecamatan Piyungan, Pleret, Imogiri, Dlingo, Pundong, Pajangan, Kasihan, dan Pandak.

Selama hujan belum turun rutin, atau sumber air sudah pulih, pihaknya akan terus menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Pihaknya telah mengajukan penambahan anggaran droping air melalui dana tak terduga Rp 40 juta. Sehingga kini, pihaknya memiliki dana penanggulangan bencana Rp 80 juta.

“Kemarin kami memiliki dana Rp 40 juta, terus kami ajukan lagi anggaran untuk penyaluran air bersih. Kami berharap dana ini cukup sampai akhir tahun,’’ katanya.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan puncak musim hujan diprediksi Januari hingga Februari 2020. “Di bulan itu, intensintas hujan diprediksi tinggi,” kata Reni. (inu/iwa)