RADAR JOGJA – Curah hujan menjadi kendala utama bagi petani. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono. Tercatat pada November hanya terjadi 4,6 hari hujan. Intensitas hujan mencapai 49,8 mm di 18 kecamatan.

Kondisi ini masih berlangsung hingga minggu awal Desember. Hujan hanya terjadi di Kecamatan Paliyan, Semin, Girisubo, Semanu dan Ponjong. Itupun memiliki intensitas hujan yang sangat rendah. Langkah antisipasi berupa himbauan untuk tidak terburu-buru menanam komoditas.

“Komoditasnya padi dan jagung, masih kami imbau tidak tanam dulu. Kalau di dekat sungai Oya Patuk ada kedelai. Luasnya 30 hektar dan kondisinya aman karena dekat sumber air,” jelasnya.

Sebelumnya, mundurnya musim penghujan berdampak pada musim tanam di sejumlah wilayah. Bahkan petani di wilayah Gunungkidul sempat kecelik. Acuannya adalah turunnya hujan beberapa waktu lalu. Para petani mengira bahwa hujan tersebut adalah awal musim penghujan.

Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca Staklim BMKG Jogjakarta Sigit Hadi Prakosa sempat mendapatkan laporan tersebut. Petani Gunungkidul terlanjur menanam benih tanaman musim penghujan. Sayangnya, berjalannya waktu intensitas suplai air masih di bawah rata-rata.

“Padahal kami sudah menghimbau agar tidak terburu-buru. Infonya bibit tanaman yang ditanam mati,” katanya kepada Radar Jogja, Kamis (5/12). (dwi/riz)