RADAR JOGJA DIGITAL – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi salah satu dari 31 perguruan tinggi yang memperoleh bantuan dana Pengembangan Inovasi Modul Digital 2019 Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI.

Bantuan dana sebesar Rp 70 juta tersebut direalisasikan dalam bentuk modul flipbook oleh tim yang terdiri dari dua fakultas yakni FKIP dan FAST UAD. Tim inovasi yang diketuai oleh Agung Budiantoro MSi ini mengembangkan dua tema yakni human literacy dan technology literacy. Tema human literacy direpresentasikan pada mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang diampu oleh Ega Asnatasia Maharani M Psi dan Intan Puspitasari MA. Sedangkan technology literacy pada mata kuliah Bioteknologi diampu oleh Diah Astaputri MSi dan Oktira Roka Aji MSi. 

Agung menjelaskan, modul digital yang dikombinasikan dengan video ini rencananya akan digunakan dalam perkuliahan berbasis sistem pembelajaran dalam jaringan skala nasional. Konten yang dihasilkan berlisensi Creative Common yang mengizinkan untuk setiap orang menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan. “Bahkan untuk kepentingan komersial selama mereka mencantumkan kredit kepada pembuatnya atas ciptaan asli,” katanya, Sabtu (7/12).

Salah satu anggota tim penysun Dr Puguh Wahyu Prasetyo Msc mengatakan, dua modul flipbook tersebut telah diunggah di laman e-learning UAD. Terdapat video yang diproduksi sendiri maupun dari sumber internet lain seperti YouTube. Dalam satu modul, misalnya Modul Perkembangan Peserta didik terdapat enam topik utama untuk 14 kali pertemuan.

“Mahasiswa cukup di depan e-book tersebut sudah cukup, misalnya di bagian pengantar juga uji coba kromosom, pemotongan bawang, dan sebagainya,” paparnya.

Pembuatan modul ini sekitar dua bulan, mulai 25 September hingga 25 November 2019. Untuk kendala yang ditemui selama proses produksi, lanjut Puguh, salah satunya belum adanya SDM di IT support seperti tenaga pembuat animasi.

“Dari penyusunan kami juga laksanakan evaluasi terkait fitur dan konten, termasuk menambah beberapa video terkait tutorial penggunaan dan sebagainya, sebenarnya ingin ada semacam QR code yang ketika di-scan keluar fitur virtual atau augmented reality,” terangnya.

Sementara itu menurut Wakil Dekan FKIP UAD Dody Hartanto, inovasi ini merupakan inisiasi yang luar biasa baik dari pemerintah maupun tim pelaksana, mengingat kampusnya selama ini masih menggunakan modul tercetak.  “Jadi salah satu terobosan, menurut saya jadi bagian penting. Bayangkan kalau semua modul seperti ini, dari perspektif ligkungan juga lebih baik, efisiensi waktu, biaya, mengurangi penggunaan kertas, dan lain-lain,” ungkapnya.

Pihaknya berharap penyusunan modul digital ini dapat terus berkembang dengan fitur-fitur yang baru sesuai kebutuhan yang menunjang era revolusi industri 4.0. (tif)