BADAN Pusat Statistik mempublikasikan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 berjudul Analisis Statistik Sosial (Bonus Demografi dan Pertumbuhan Ekonomi). Di dalamnya menyebutkan Indonesia dalam kurun waktu tahun 2020-2030 mengalami fenomena langka kependudukan, para ahli menyebutnya sebagai “bonus demografi”.

Mendengar kata “bonus” pastinya membuat orang-orang merasa tertarik dengan hal tersebut. Dalam bahasa inggris “bonus” berarti keuntungan atau tambahan. Sedangkan kata “demografi” berarti ilmu yang berkenaan dengan susunan, jumlah dan perkembangan penduduk. Jadi, Bonus Demografi dapat diartikan secara sederhana sebagai tambahan yang menguntungkan dalam hal kependudukan.

Hal ini muncul karena jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan jumlah penduduk usia tidak produktif yakni penduduk usia (< 15 tahun), juga penduduk usia (> 64 tahun/lansia).

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) oleh Bappenas dipredikasikan Indonesia pada 2019 mengalami bonus demografi sebesar lebih dari 68% saat ini yang akan mencapai 266,91 juta jiwa. Angka tersebut terdiri atas 134 juta jiwa laki-laki dan 132,89 jiwa perempuan. Kelompok usia belum produktif (0-4 tahun) sebanyak 66,17 juta jiwa atau sebesar 24,8%, kemudian kelompok usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 183,36 juta jiwa atau sebesar 68,7%, dan kelompok penduduk usia sudah tidak produktif (65 tahun ke atas/lansia) sebanyak 17,37 juta jiwa atau sebesar 6,51%.

Melihat potensi penduduk Indonesia yang begitu besar ini, menempatkan negara di posisi ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Amerika Serikat (3), India (2), dan RRC (1). Selaras dengan pernyataan Presiden Joko Widodo dalam acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019 – 2024 (20/10) yakni “Indonesia saat ini sedang berada di puncak bonus demografi, sehingga menjadi kesempatan besar jika dapat membangunnya menjadi SDM yang unggul di dukung oleh kondisi ekosistem politik dan ekonomi yang kondusif”.

Indonesia harus belajar dari pengalaman negara-negara yang telah sukses memanfaatkan kondisi bonus kependudukannya antara lain negara-negara di Asia Tenggara misalnya Singapura dan Thailand. Sedangkan di Asia ada RRC/Tiongkok dan Korsel telah mengalami bonus demografi. Ada beberapa hal yang bisa dicontoh dari kebijakan negara-negara tersebut.

Investasi pada sektor Pendidikan sebagai ujung tombak membangun generasi yang lebih baik tidak hanyak cerdas namun memilik akhlak yang mulia sebagai modal dasar membangun karakter bangsa yang berbudaya Pancasila, dan pemerintah harus link and match artinya bukan hanya memastikan anak-anak mendapat pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi yang berkualitas serta merata di daerah-daerah tapi setelah lulus dapat kesempatan kerja dan berkarya.

Perbaikan pada Bidang Pelayanan Kesehatan. Cerdas saja tidak cukup mesti ditunjang dengan makanan yang bergizi dimulai dengan memperbaiki kondisi pangan Indonesia sehingga mengurangi resiko kekurangan gizi serta menurunkan jumlah kematian bayi dan ibu.

Perbaikan pada bidang partisipasi kerja; yakni kerjasama dengan industri juga dioptimalkan, mendorong semangat UMKM dan usaha kreatif lainnya, dan menjamin kenyamanan investasi sehingga ekonomi dapat terus tumbuh.

Kemudian Pemerintah harus mempersiapkan segala kebutuhan yang diperuntukkan bagi penduduk usia belum produktif dan produktif sehingga mereka memiliki akses pendidikan yang berkualitas agar dapat bekerja dan berkarya. Seperti pepatah dahulu mengatakan bahwa pelaut yang ulung tidak lahir dari ombak yang tenang, melainkan terbiasa menghadapi badai, hal ini jugalah yang memunculkan sosok-sosok Anak muda milenial Indonesia yang pekerja cerdas, cepat dan inovatif sehingga sukses di mata dunia.

Sebut saja Nadiem Makariem (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Founder Go-Jek), Ahmad Zaky (Bukalapak), Wiliam Tanuwijaya (Tokopedia), Hendy Setiono (Founder Kebab by Baba Rafi) dan inovator muda Indonesia lainnya. Apabila Indonesia gagal memanfaatkan kondisi 10 tahun ke depan, dikhawatirkan akan meningkatnya kemiskinan serta penggangguran di negeri kita selain itu, hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri. Indonesia harus mampu membangun SDM yang berkualitas layaknya pelaut tadi agar dapat bersaing dengan negara lain. (ila)