RADAR JOGJA DIGITAL – Kecamatan Dlingo dan Mangunan Bantul pernah dikenal sebagai daerah miskin. Namun kini warganya mampu hidup lebih layak setelah aktivitas pariwisata berkembang di sana. Wakil Ketua DPRD DIJ Suharwanta menilai hal tersebut sebagai bukti bahwa pariwisata bisa menjadi kekuatan untuk mengentaskan kemiskinan. Dia menyebutkan angka kemiskinan di DIJ 11,7 persen di atas rata-rata nasional dan Kecamatan Dlingo yang dulu masuk 15 kantong kemiskinan kini sudah bergeser.

“Saya punya teman dari lembaga keuangan mikro. Tiga sampai empat tahun lalu daerah ini nasabahnya dikenal paling bandel. Tabungannya paling sedikit. Sekarang angsurannya paling lancar dan paling banyak tabungannya, ini riil,” tuturnya dalam Forum Diskusi Wartawan yang digelar di obyek wisata Seribu Batu Sangga Langit, Mangunan Bantul, Rabu (11/12).

Diskusi bertema “Inovasi Destinasi Wisata Berkelanjutan untuk Tingkatkan Kunjungan” kali ini juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo serta Aris Purwanto selaku pengelola destinasi wisata Seribu Batu Sangga Langit. Dari forum tersebut, ketiganya sepakat bahwa sektor pariwisata harus menjadi kekuatan utama di DIJ. Apalagi didukung dengan daya tarik beragam destinasi wisata alam maupun buatan yang dimiliki.

“Kami berharap pariwisata menjadi lokomotif pergerakan ekonomi DIJ, termasuk wilayah yang tidak punya destinasi mendapatkan impact misalnya punya industri kecil. Harapan kami ada Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata. Sebagai penanda keistimewaan, kami berharap danais. tahun 2020 sebesar Rp 1,3 triliun bisa dimanfaatkan,” beber Suharwanta.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo menyebutkan, pihaknya bersama pengelola Seribu Batu juga mengembangkan atraksi wisata baru di sana berupa glamour camping yang tengah tren saat ini. Wisatawan dapat menikmati pengalaman tidur di hutan pinus dengan fasilitas rasa hotel berbintang. Sementara baru tersedia lima unit tenda dan fasilitas restoran kaca.

“Kami merekomendasikan destinasi wisata ini tidak perlu mengejar jumlah wisatawan akan tetapi meningkatkan kualitasnya,” ujarnya.

Singgih juga menyinggung dibukanya Yogyakarta International Airport (YIA). Menurutnya, dengan dibukanya bandara baru tersebut, maka tidak ada alasan lagi pesawat dari luar negeri berbadan besar tidak bisa mendarat. (sky/tif)