RADAR JOGJA DIGITAL – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu sosiologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/12).

Bertempat di Sportorium Kampus terpadu UMY, Haedar menyampaikan pidato yang berjudul “Moderasi Indonesia dan Keindonesiaan Perspektif Sosiologi”. Menurutnya, moderasi Indonesia dan keindonesiaan sebagai pandangan dan orientasi tindakan untuk menempuh jalan tengah atau moderat merupakan keniscayaan bagi kepentingan masa depan bangsa.

“Moderasi Indonesia dan keindonesiaan itu niscaya objektif dalam seluruh aspek kehidupan kebangsaan seperti politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan,” katanya.

Menurutnya, orientasi tersebut sejalan dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita kemerdekaan seperti yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan spirit para pendiri bangsa.

Oleh karena itu, lanjut Haedar, Indonesia harus terbebas dari segala bentuk radikalisme. Yang ekstrem ke arah liberalisasi dan sekularisasi maupun ortodoksi yang menyebabkan Pancasila dan agama-agama kehilangan titik moderatnya yang otentik. Baik dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan.

Namun, Haedar juga berpesan agar istilah radikalisme tidak digunakan secara bias atau sembarangan. Karena ketika istilah radikalisme digeneralisasi secara luas, akan menjadikan Indonesia berada dalam gawat-darurat radikalisme.

“Padahal sejatinya masih banyak aspek dan ruang sosiologis dalam kehidupan keindonesiaan yang moderat dan menjadi kekuatan Indonesia untuk menjadi negara maju dan bersatu sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa,” kata dia.

Sementara bagi umat Islam Indonesia, menurut Haedar sangat penting untuk mengembangkan membumikan Islam sebagai ajaran yang moderat untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

“Kenyataan memang masih dijumpai keberagamaan yang ekstrem atau radikal-ekstrem di tubuh umat Islam, sehingga memerlukan moderasi,” ujarnya.

Maka moderasi bisa menjadi salah satu solusi yang praktis untuk mengembangkan kepribadian individu dan mekanisme kontrol di masyarakat. Haedar menyebut konsep itu juga berasal dari penggalan ayat dalam Al Quran yakni ummatan wasaan (ummat tengahan).

“Fakta bahwa moderasi sebagai sebuah konsep, ditemukan dalam agama dan tradisi lain, membenarkan gagasan bahwa moderasi sebenarnya, merupakan sebuah gagasan universal,” lanjut Haedar. (sky/tif)